Tampilkan postingan dengan label Puisi Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Lainnya. Tampilkan semua postingan

Puisi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke 71

Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 telah menanti. Semuanya pada sibuk mempersiapkan upacara dan perayaan HUT RI, mulai dari lomba-lomba agustusan, gerak jalan, acara konser, dan lainnya. Tapi apakah mereka tau arti kemerdekaan sesungguhnya?.

HUT RI 17 Agustus

Dan uniknya, acara peringatan Dirgahayu HUT RI biasanya menjadi persaingan "yang paling megah dan meriah". Ya mulai dari antar RT, Desa, hingga Ibu Kota, termasuk stasiun TV yang nggak mau kalah. Dan konyolnya lagi, sering terjadi perselesihan, konflik, bahkan tawuran. Apakah begitu caranya menghormati para pahlawan dan tokoh yang telah berjasa membangun negeri ini dari zaman penjajahan hingga sekarang?.

Berikut ini dua puisi yang aku ambil dari Buku Pintu Gerbang MEA 2015 Harus Dibuka, semoga bisa membantu anda untuk lebih memahami makna hari kemerdekaan.

Puisi Panen
Berjurai dan berjurai-jurai
Tingkah padi menguning di tepi tikungan
Sawah menurun yang memalung lembah
Membuat aku bertanya:
Mengapa hatiku basah?
Burung-burung kecil menuliskan cericitnya
Pada angin, sebagai pujian Tanah Air

Berjurai padi, berjurai-jurai bersama angin
Dalam rinai doa air sungai
Dan ketika doa tunjam ke dasar
Kerbau yang berjasa meluku sawah
Pantaskah dijadikan kurban?

"Yang tak berkeringat tak boleh menang"
Suara yang selalu dibenarkan langit dan hujan
Tapi pada zaman kemustahilan
Hujan deras menangisi kenyataan
Di balik yang berjurai, berjurai-jurai
Ada yang mengajarku kembali membaca perih
Karena ada penyemai tidak berhak untuk menuai

Puisi Pahlawan
Ku kejar lagumu sampai ke palung lautan
bahasa tidak laku lagi di sini
karena nyanyian bukan hanya memanjakan ikan

Juga menerjemahkan ketulusan
dalam diamnya cangkang karang

Pada zaman pahlawan disimpan di laci
kulukis wajahmu dengan susunan padi
jagung dan kacang-kacangan
karena sejarah tak bisa diulang

Kalau dulu engkau kalah
aku sudah bertanya kepada pedang kepada senapan
Jawabannya, engkau tak kalah
Bahkan engkau sedang diperlukan sejarah

Zaman berjalan, tertatih dan sempoyongan
dalam asap hutan terbakar
Tapi engkau yang mengajarkan
agar aku tak punya waktu untuk mendengki
Tak punya waktu menjilet hati ibu pertiwi

Baca dan pahami makna puisi di atas, peringatan hari kemerdekaan Indonesia 2016 jangan hanya dijadikan sebagai perayaan wah-wah, apalagi baku hantam. Tapi juga harus memahami ari merdeka, agar kedepannya bendera sang saka mera putih bisa berkibar tinggi. Agar hukum indonesia nggak terlalu sering miring, tegak berdiri terus.

Animasi Hari Kemerdekaan RI

Kalau bagiku, peringatan 17 Agustus ibarat membuat secangkir kopi buat pelanggan, ha ha.

Syair Puisi Amir Hamzah Pilihan

Berikut ini beberapa sajak dari penyair terkenal Amir Hamzah yang menurutku sangat bagus dan gaya bahasanya juga sudah bisa dipahami daripada karya lainnya. Ya maklumlah, puisi jaman dahulu gaya bahasanya masih jadul, belum ada EYD ejaan yang disempurnakan.

Syair Puisi Amir Hamzah Pilihan

Nyanyian Jallaludin El Rumi

Jangan disalahkan dunia karena belenggumu,
Sebab banyakan mawar dari duri.
Jangan disebutkan dunia ini penjara,
Karena inginmu itulah yang membangunkan duka.
Jangan pula tanyakan penghabisan rahasia,
Satu dalam dua, atau baik, tau jahat!
Usaha pula katakan kasih meninggalkan tuan,
Jangan ia dicari di pekan dan jalan!
Ta’ guna takutkan siksa mati,
Sebab takut itulah mendatangkan sengsara,
Janganlah buru kijang cita indria,
Kalau terburu singa sesalan.
Jangan hatiku, mengekang diri,
Jadi ta’ usah malaikat menolong engkau.


Doa

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi,
Pada masa purnama meningkat naik,
Setelah menghalaukan panas terik.
Angin malam menghembus lemah,
Menyejuk badan, melambung rasa menanyang pikir,
Membawa angan ke bawah kursimu
Hatiku terang menerima katamu,
Bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu,
Bagai sedap-malam menyirak kelopak.
Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku
Dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu,
Biar berbinar gelakku rayu!


Memuji Dikau

Kalau aku memuji Dikau,
Dengan mulut tertutup, mata tertutup,
Sujudlah segalaku, diam terbelam,
Di dalam kalam asmara raya.
Turun kekasihmu,
Mendapatkan daku duduk bersepi, sunyi sendiri.
Dikucupnya bibirku, dipautnya bahuku,
Digantunginya leherku, hasratkan suara sayang semata.
Selagi hati bernyanyi, sepanjang sujud semua segala,
Bertindih ia pada pahaku, meminum ia akan suaraku …
Dan, iapun melayang pulang,
Semata cahaya,
Lidah api dilingkung kaca,
Menuju restu, sempana sentosa.


Padamu Jua

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku gila, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku ...


Kumpulan Puisi Amir Hamzah
Sajak-Sajak Seniman Amir Hamzah
Koleksi Syair Amir Hamzah

Puisi Pilihan Karya Taufik Ismail

Taufik Ismail, nama tersebut sudah tidak asing lagi bagi para pecinta puisi di tanah air. Goresan tinta yang ditorehkan begitu terkenal terutama yang menyiratkan tentang potret peristiwa sejarah. Namun demikian, secara pribadi aku tidak terlalu menyukai puisi-puisi jaman dulu, sajak yang ditulis terkesan seperti cerita.

Taufik Ismail

So, berikut ini beberapa puisi karya Taufik Ismail yang sudah aku pilih biarpun nggak semuanya. Maklum banyak banget karya-karyanya dalam Benteng, Buku tamu museum perjuangan, Prahara budaya, dan Sajak ladang jagung.

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.


Syair Orang Lapar

Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau.


Karangan Bunga

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.


Salemba

Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Siang ini.

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani.


Memang Selalu Demikian, Hadi

Setiap perjuangan selalu melahirkan
Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
Jangan kau gusar, Hadi.

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, Hadi.

Setiap perjuangan yang akan menang
Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
Dan para jagoan kesiangan.

Memang demikianlah halnya, Hadi.


Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua
Pada Anaknya Berangkat Dewasa

Jika adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah ang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kauagungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi.


Demikianlah Puisi Pilihan Karya Taufik Ismail, semoga anda terhibur dan dapat mengambil hikmah. Banyak sejarah dan motivasi yang bisa ambil di dalamnya, teruntuk anda para generasi muda.

Sajak Hitam | Avontur Sekumpulan Puisi

Sajak Hitam
(Avontur | Sekumpulan Puisi)

Bergelas kopi hitam dan baju hitam
yang menemani hari-hari hitammu
menjelang lagi di hitammu.

Kau pernah berkata
aku akan terus lurus di atas jalan hitam ini
sampai di titik yang nun di sana menghitam.

Avontur Sekumpulan Puisi

Sementara aku di pinggiran aspal hitam ini
masih saja separuh gelap
kawan, sudahkah engkau sempurna hitam.

Gegaslah karena tak lagi ada yang bisa dihitamkan disini
hitam tak lagi milik kita.

Hitam sudah menjadi milik semua.

Ragil Supriyatno Samid
AVONTUR (Sekumpulan Puisi)

Puisi Kidung Cinta Kita

Kidung Cinta Kita

Teduhnya langit tiada awan berarak menyelimuti,
Biru bawakan rasa kedamaian sejukkan jiwa,
Semilir bisikan angin mesra membelai asmara,
Ku terhanyut dalam buaian syair indah kidung cinta,
Dan terpejam mata ini menikmati gelora sorgawi.

Hati berdebar saat kau desahkan namaku,
Terpukau ku pandang rona merah di wajahmu,
Menyesap hangat dalam pesona rindu,
Mengalun merdu melodi jantungku yang berirama syahdu,
Tangan terulur tuk dekap jiwamu membuai kalbu.

Kidung Cinta

Kuingin rasa ini ku lukis dalam kanvas abadi di hati,
Bersama ilalang panjang menghiasi kembara cinta ini,
Berbiaskan taburan bintang gumintang indah berkelip,
Senja yang jingga menjadi saksi cinta kita yang abadi,
Hingga waktu datang di ujung temaram mengikat nurani...

Penulis Kidung Cinta:
Leonberg, 22.5.2012
Written by Ita Friedrich (kompasiana.com)