Tampilkan postingan dengan label Cerita Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Inspiratif Meninggalkan Malam Pertama Demi Syahid

Kisah Inspiratif - Ketika malam telah menyelimuti kota Madinah Al Munawwarah, bintang -bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan serta mimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu.

Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah naik ke pelaminan. Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud. Hanzhalah minta izin kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan kemantennya.

Pejuang Islam Syahid

Manis macam apakah yang ada pada malam itu? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah?. Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad. Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat, akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Ia tinggalkan malam pertama dengan istrinya untuk mencapai syahid.

Waktu itu Hanzhalah Radiallahuanhu masih Junub, belum sempat mandi besar, melesat memenuhi seruan kebenaran, serta melayang tidak menginjak bumi. Sepasang penganten malam itu melesat dengan membawa senjatanya untuk bergabung dengan Nabi Shalallahu alaihi was salam yang sedang menyiapkan barisan Muslimin, meyiapkan hati untuk melakukan transaksi dijalan Allah, Hanzhalah masuk pasar surga.

Perang sangat dahsyat berkemilau dengan serunya pada awalnya kemenagan diraih tapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju. Akan tetapi beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah Shalallahu alihi wa salam, termasuk di dalamnya Hanzhalah Dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dia maju menghadap Abu Sofyan bin Harb Dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sofyan dari belakang sehingga Abu Sofyan terjatuh dia menjatuhkannya dari atas kudanya seakan-akan dia menjatuhkan kebathilan yang telah mencuri kebenaran dan kebathilan yang mengacau akidahnya. Pada saat itu datanglah Syaddad bin Al Aswad membantu Abu Sofyan melawan Hanzhalah Radiallahuanhu, untuk kemudian salah satu dari dua orang itu bisa membunuh hati yang bersih dengan lemparan lembing yang tembus Abu Sofyan berteriak Hanzhalah dengan Hanzhalah yang maksudnya dia telah membalaskan dendam anaknya yang terbunuh dalam perang Badar. Hanzhalah Radiallahuanhu meninggalkan kita, tetapi bau wangi misik darinya tetap semerbak menyirami jiwa-jiwa generasi sesudahnya agar jiwa yang sedang tertidur menjadi bangkit dengan harapan suatu ketika akan menunggangi kuda-kuda Syahid.

Tanah menjadi suci dengan kemanten kita tadi lalu perang usai mereka yang telah melakukan transaksi telah menjajakan semua barangnya mereka membawa hati mereka dalam genggaman Untuk diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sesuai dengan kehendak-Nya. Mereka yakin bahwa kesungguhan dan kejujuran pada waktu itu adalah kekayaan yang paling berharga. Dan siapa yang sungguh- sungguh jujur dengan Allah tidak akan sia-sia.

Para Sahabat Radiallahuanhu yang masih tersisa mulai mencari saudara-saudara mereka yang masih menanti janji dari langit memilah-milah siapa yang lebih dahulu ke langit. Tangan mereka yang berusaha menyentuh jasad Hanzhalah Radiallahuanhu yang berlumur darah mereka kagum adanya rintik rintik air mengalir dari dahinya seperti butiran-butiran mutiara dan berjatuhan dari sela-sela rambutnya. Ini tentu menjadi misteri. Apa maksudnya sampai kemudian para sahabat mendengar suara Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda: "Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak".

Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dengan mendapatkan harga surga Selamat wahai anda Hanzhalah anda telah mendapat surga orang-orang Aus, Suku Hanzhalah sangat bangga dengannya karena dari suku mereka ada yang dimandikan Malaikat

Sesungguhnya Hanzhalah akan tetap menjadi kebanggaan dan terpatri dalam dada kaum muslimin bukan hanya untuk Aus saja! Semoga Allah ridha terhadap Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu.
sumber

Demikianlah artikel islam yang menceritakan tentang kisah teladan Hanzhalah yang rela meninggalkan malam pertama untuk menjalani perang uhud dan rela mati syahid, semoga dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua. Akhir kata, Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh.

Kisah Inspiratif Meninggalkan Malam Pertama Demi Syahid (end).

Cerita Hidayah - Akhir Hidup Penyembah Berhala

Pada bulan suci ramadhan ini, kita berlomba-lomba untuk meraih amal pahala dengan melakukan berbagai macam ibadah. Namun bagaimanakah dengan orang yang imannya tidak kuat, merekan hanya berpuasa tetapi kurang meningkatkan ibadah lainnya. Dalam hal ini, salah satu upaya untuk meningkatkan iman anda adalah dengan membaca kisah-kisah teladan atau cerita hidayah.

Penyembah Berhala

Cerita Hidayah - Akhir Hidup Penyembah Berhala
Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu dan mendapat seorang laki-laki sedang terdiam menyembah patung.”

Kami berkata kepadanya, ‘Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat.’

Dia bertanya, ‘Kalau demikian, apa yang kalian sembah?’

Kami menjawab, ‘Kami menyembah Allah.’

Dia bertanya, ‘Siapakah Allah?’

Kami menjawab, ‘Dzat yang memiliki istana di langit dan kekuasaan di muka bumi.’

Dia bertanya, ‘Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?’

Kami jawab, ‘Dzat tersebut mengutus seorang rasul kepada kami dengan membawa mukjizat yang jelas, maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami mengenai hal itu.’

Dia bertanya, ‘Apa yang dilakukan rasul kalian?’

Kami menjawab, ‘Ketika beliau telah tuntas menyampaikan risalah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut ruhnya. Kini utusan itu telah meninggal.’

Dia bertanya, ‘Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?’

Kami menjawab, ‘Dia meninggalkan kitabullah untuk kami.’

Dia berkata, ‘Coba kalian perlihatkan kitab suci itu kepadaku!’

Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya. Dia berkata, ‘Alangkah bagusnya bacaan yang terdapat dalam mushaf itu.’ Lalu kami membacakan beberapa ayat untuknya. Tiba-tiba ia menangis, dan berkata, ‘Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.’ Kemudian ia memeluk Islam dan menjadi seorang muslim yang baik.’

Selanjutnya, dia meminta agar diizinkan ikut serta dalam perahu. Kami pun menyetujuinya lalu kami mengajarkan beberapa surat Al-Quran. Ketika malam tiba, sementara kami semua berangkat tidur, tiba-tiba dia bertanya, ‘Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu juga tidur?’

Kami menjawab, ‘Dia Hidup terus, Maha Mengawasi dan tidak pernah ngantuk atau tidur.’

Dia berkata, ‘Ketahuilah, adalah termasuk akhlak yang tercela bilamana seorang hamba tidur nyenyak di hadapan tuannya.’ Dia lalu melompat, berdiri untuk mengerjakan shalat. Demikianlah, kemudian ia qiyamullail sambil menangis hingga datang waktu subuh.

Ketika sampai di suatu daerah, aku berkata kepada kawan-kawanku, ‘Laki-laki ini orang asing, dia baru saja memeluk Islam, sangat pantas jika kita membantunya.’ Mereka pun bersedia mengumpulkan beberapa barang untuk diberikan kepadaya, lalu kami menyerahkan bantuan itu kepadanya. Seketika saja ia bertanya, ‘Apakah ini?’

Kami menjawab, ‘Sekadar infak, kami berikan kepadamu.’

Dia berkata, ‘Subhanallah. Kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah dzat lain (bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekalipun demikian, dia tidak pernah menyia-nyiakan aku…. Maka bagaimana mungkin dan apakah pantas Dzat yang aku sembah sekarang ini, Dzat Yang Maha Mencipta dan Dzat Maha Memberi rezeki akan menelantarkan aku?’

Setelah itu, dia pergi meninggalkan kami. Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa ia dalam keadaan sakaratul maut. Kami segera menemuinya, dan ia sedang dalam detik-detik kematian. Setiba di sana, aku ucapkan salam kepadanya, lalu bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan?’

Dia menjawab, ‘Keinginan dan harapanku telah tercapai pada saat kalian datang ke pulau itu, sementara ketika aku tidak mengerti kepada siapa aku harus menyembah.’

Kemudian aku bersandar pada salah satu ujung kainnya untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba saja aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi melihat taman yang di atasnya terdapat kubah di sebuah kuburan seorang ahli ibadah. Di bawah kubah terdapat tempat tidur sedang di atasnya tampak seorang gadis sangat cantik. Gadis itu berkata, ‘Demi Allah, segeralah mengurus jenazah ini, aku sangat rindu kepadanya.’ Maka aku terbangun dan aku dapati orang tersebut telah mati. Lalu aku mandikan jenazah itu dan aku kafani.

Pada malam harinya, saat aku tidur, aku memimpikannya lagi. Aku lihat ia sangat berbahagia, didampingi seorang gadis di atas tepat tidur di bawah kubah sambil menyenandungkan firman Allah.

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
(Sambil mengucapkan), ‘Salamu ‘alaikum bima shabartum.’’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 24) (Al-Mawa’izh wal Majalis, 40).

Sumber tulisan dari kisah muslim yang mengutip dari: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan 5, Shafar 1430/2009.

===

Demikianlah sebuah kisah hidayah dari seorang penyembah berhala yang masuk Islam sebelum meninggal dunia. Semoga bermanfaat bagi anda dan dapat meningkatkan iman. Akhir kata, Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh.

Rasa Terpendam dalam Penantian Panjang

Di bawah teriknya matahari siang, hari sabtu yang kedatangannya dinantikan selama 4 tahun menyelami bangku kuliah. Seorang perempuan dengan kebaya cantiknya berjalan menenteng topi toga dan ijazah yang baru diterimanya.

Dia mencari sosok yang dikenalnya, sosok yang ia pun tahu tidak mungkin datang saat itu. Tapi sudut matanya tetap saja bergerilya mencari sosok yang diharapkannya. Bukan bunda, bukan ayah, bukan abang dan adiknya, bukan pula teman-teman se-genk-nya karena mereka sudah pasti hadir di sini.

Dipasangnya wajah penuh senyum setiap kamera men-shoot wajahnya, senyum getir tentunya. Jika ini bukan hari besarnya sudah barang tentu dia tidak mau difoto dengan senyum pura-pura. Dia menyadari bahwa dia tokoh utama dalam acara kali ini, keluarga dan teman-teman hanyalah figuran yang ikut merayakan keberhasilannya menyandang gelar sarjana. Dia merasa sendiri di tengah hingar bingar kebahagiaan.

Dia resah mengingat pertemuan terakhirnya dua bulan yang lalu, saat itu tak sepatah katapun diucapkannya sebagai jawaban dari pertanyaan si laki-laki. Impian yang mereka bayangkan terasa begitu manis, begitu menawan, tapi hanya mimpi belaka jika tanpa jawaban ‘iya’ darinya.

Penantian Cinta Panjang


Perempuan itu mencintai si laki-laki sepenuhnya, tapi dia takut.
Dia ingin menjawab iya tapi takut untuk mengungkapkan
Dia ingin menjawab iya tapi takut kehilangan impian yang sudah dirancangnya
Dia ingin menjawab iya tapi takut menghambat ambisi-ambisi terpendamnya

Kemegahan bangunan kampus seolah mengahardik ketakutan-ketakutannya yang dangkal, menertawakan logikanya yang bersebrangan dengan kata hatinya. Ingin sekali dia mengulang masa itu dan dengan lantang menjawab IYA. Kini semua sudah terlambat, si laki-laki sudah jauh di belahan bumi yang lain. Perempuan itu hendak berteriak sejadi-jadinya mengabaikan orang-orang disekitarnya, namun mulutnya terkunci.

Dalam mobil keluarganya perempuan itu menyusuri gerbang keluar dari kampus. Dilihatnya tumpukan bunga-bunga dan kado yang dia dapat hari ini. Matanya tertuju pada bungkusan kado berwarna hijau. Wolfsburg, dibacanya kota asal pengirimnya di sudut kanan atas. Jantungnya berdetak cepat demi membuka kertas pembungkusnya. Sebuah scrapbook warna coklat muda, terselip selembar kartu ucapan di dalamnya.

“Jika kamu mau, rancanglah impian-impianmu di scrapbook ini. Dua tahun lagi aku akan datang untuk mengeceknya. Apakah rancanganmu sudah benar atau belum. Semoga Allah menghalalkanku masuk di setiap inchi kehidupanmu pada saat itu”

Sekarang perempuan itu hanya bisa mempersembahkan senyuman terbaiknya. Dua tahun lagi akan dipersembahkannya rancangan kehidupan terbaik yang bisa dibuatnya untuk si laki-laki. Dua tahun yang akan sangat dinantikannya, sebuah penantian panjang.

Rasa Cinta Terpendam

Cerita Pendek: Rasa Terpendam dalam Penantian Panjang

Apakah ini Rasa Cinta ?

Senja kala itu menyuguhkan keindahan tidak seperti biasanya, terpancar cahaya merah berbaur orange mengiringi kepergian sang surya. Aku yang sedari tadi duduk di tengah pintu kosku yang terbuka dan memandang langit penuh rasa kagum, dan tanpa ku sadari posisi kakiku bersilah. Aku seharusnya meluruskan kedua kakiku, merenggangkan tiap otot yang terasa kaku seusai mencari tiap tetes keringat yang berharga. Keringat yang tidak hanya melindungi dari wabah penyakit, tetapi juga untuk menyehatkan pikiran dan hati yang setiap hari terisi oleh hitam putih dunia.

5.15 PM, aku berniat memanjakan diri dengan membasuh tubuhku dengan air yang menyegarkan. Sejenak sebelum aku berdiri, seorang gadis berseragam Madrasah Aliyah datang melintas di depan kedua mataku. Dia menghentikan langkah kakinya dan memandangku penuh keanehan dan tanda tanya, kemudian kau tinggalkan senyum manismu begitu saja. Kau pun berlalu, sedangkan aku masih bingung apa yang sedang terjadi. Tapi aku tidak mau larut memikirkannya, segera ku tepiskan dan beranjak melanjutkan niatku.

Rasa Cinta

Sehari berlalu, tak ada sedikitpun waktu untuk memikirkan sang gadis karena sifatku yang selalu tidak peduli dengan cewek. Sebagai catatan, aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah kelas tiga SMA tak pernah mengenal apa itu cinta, bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Aku selalu bersikap cuek dan mengabaikan setiap cewek yang mencoba mendekatiku, mungkin aku terlalu sibuk dan menikmati kesendirianku. Aku juga tidak menghiraukan orang-orang berkata pa tentangku, nggak laku atau apalah, yang jelas aku bahagia.

Dua hari berselang, di hari minggu yang panas, aku kembali bertatap muka dengan sang gadis. Saat itu aku sedang membuka jendela kamarku, berharap sinar mentari akan membangunkan teman-temanku yang masih tertidur pulas, dan saat itu juga kau kembali melintas di samping kosku. Kali ini kau berjalan bersama teman-temanmu, dan seperti sebelumnya kau tinggalkan senyuman. Kau pun berhenti di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang mengantarkanmu ke sekolah, aku masih terpaku memandangmu walau kau berdiri membelakangiku.

Aku mulai merasakan hal aneh dalam diriku, sel otakku bekerja tidak pada porosnya, hatiku pun berdetak kencang mengiringi tiap irama jantungku. Aku berusaha untuk menetralkan keadaan, ku dengarkan lagu-lagu pop jadul yang tersua dari radio Merdeka FM dengan nada yang menentramkan hati. Semua itu hanya sesaat kala iklan radio disuarakan.

'Daripada bingung nggak menentu, lebih baik menjahili tema-temanku yang masih molor', gumamku dalam hati. Aku mulai melancarkan serangan dengan mengikat tali pada mereka satu sama lain, dan juga memberikan bedak dan coretan spidol di wajah mereka. Belum selesai misiku, mereka terbangun dan menyerangku balik, kami pun bertingkah layaknya anak SD. Tapi tak apalah, hidupku kembali normal jika berbagi canda-tawa dengan mereka.

Keesokan harinya. ..
'Siang yang membosankan, lebih baik ngopi daripada duduk di bangku sekolah', gerutuku sambil memandang teman-teman sekelasku yang membosankan, yang kebanyakan anak OSIS yang sok cool di hadapan para cewek. Aku pun meninggalkan dua pelajaran dan kembali ke kos lewat pintu rahasia, maklum aku termasuk kategori murid pemalas yang sering bolos. Aku tahu betul celah untuk keluar dari sekolah, selain itu juga kosku juga hanya berjarak beberapa meter.

Sesampainya di kos, ku rebahkan diri sejenak sambil mendengarkan lagu mancanegara EBS FM. Setengah jam berlalu, aku bangkit dan mengambil kunci motor temanku yang biasanya ditaruh di kamarku dan ku keluarkan moror supra x dari garasi. Baru setengah kerangka motor melewati pintu, aku terkejut karena sang gadis telah berdiri satu meter di depanku menunggu angkutan umum. Dia menoleh ke arahku dengan senyuman khasnya, aku jadi bingung seakan kedua tangan dan kakiku tidak bisa bergerak.

'Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus mengantarkannya ataukah aku kembali bersikap cuek', keluhku. Hati kecilku pun berbisik, aku tak tega membiarkan paras cantiknya tersengat panasnya sinar mentari. Aku pun memaksakan diri untuk memenuhi isyarat hati, ku langkahkan kaki canggung mendekatinya.

Apakah ini Rasa Cinta

"mmmm, mau nggak aku anterin ke sekolah", tanyaku to do point karena aku nggak bisa basa-basi.
"nggak usah mas", jawabnya singkat.
"memangnya mas mau kemana", sahut temannya.
"mau ngopi ke arah yang sama dengan sekolah kamu", aku menjawab dengan spontan, padahal warung yang aku tuju berbeda arah. Aku semakin bingung dengan hati dan pikiranku.
"ya kalau nggak repot, kita ikut numpang, he he", balas temannya sambil mencolek sang gadis dan dia pun menurut.

Aku pun akhirnya membonceng keduanya, mengantarkan ke sekolah. Sang gadis duduk di tengah, aku menjadi salah tingkah dan perasaanku pun bercampur aduk. Dalam perjalanan, tidak ada satu kata pun yang terlintas di antara kami, hingga sekitar 20 meter sebelum sampai di tujuan.

"kamu nggak sekolah tha?", suaranya yang merdu memecahkan keheningan suasana.
"emmm, sekolah kok, tadi memang kelasku pulangnya agak cepet", aku semakin bingung mengapa aku harus berbohong demi citra baikku di depannya.

Suasana pun kembali kaku, sampai ku hentikan motorku tepat di depan pintu gerbang sekolahnya. Keduanya turun dan mengucapkan terima kasih kepadaku, namun aku tak membalas ucapan tersebut karena bibirku tiba-tiba berkata tanpa kusadari "namamu siapa?". "xxxxx", sang gadis membalas dan diikuti dengan temannya. Aku pun langsung berpaling dan menyalakan mesin motorku, sang gadis kembali mengucakan terima kasihsambil tersenyum. Aku pun sontak membalasnya hanya dengan senyuman tipis tanpa berkata.

Di perjalanan ke warung kopi, ku lajukan kencang motorku berharap rasa gundahku menghilang bersama angin. Semua itu sia-sia, sesampainya di warung kopi aku terus memikirkannya. Aku mulai mengagumi para cantiknya, keelokan wajahnya dan senyum manisnya. Perasaan itu berkecambuk di setiap detik nafasku, tapi seenggaknya aku merasa agak lega karena sudah mengetahui namanya.

"Apakah ini yang dinamakan cinta, apakah ini rasanya jatuh cinta", itulah yang selalu menghantui pikiranku tapi selalu kutepiskan bahwa aku tidak jatuh cinta padanya, melainkan hanya mengaguminya.

Cerpen: Apakah ini Rasa Cinta ? To be continued.... .....

Positive Thinking Solusi Kehidupan

Di teras stasion, seorang wanita duduk santai dengan majalah di tangan kanannya dan sebuah kantong kue di tangan kirinya. Dia terlihat tergesa-gesa saat berjalan menuju arah bangku tadi. Ternyata dia takut ketinggalan kereta api. Saking cueknya, dia tidak sadar jika seorang lelaki telah duduk di sebelah kanannya.

Dia lalu membaca majalah yang tadi dibawanya sambil memakan kue, satu demi satu dimakannya, namun wanita itu merasa risih ketika lelaki yang duduk di sebelahnya tiba-tiba juga memakan kue itu. Pertama, dia membiarkannya, mungkin lelaki ini tidak tahu atau memang sudah tidak bisa lagi menahan laparnya. Wanita itu tidak menanggapinya sebagai sebuah masalah. Lalu dimakanlah satu potong lagi, namun lelaki itu ikut mengambil dan memakan kue itu lagi.

Positive Thinking Kehidupan

Dengan pandangan kesal wanita itupun dengan terpaksa menolehkan wajahnya ke arah lelaki itu. Namun dia hanya tersenyum, sedangkan wanita itu tetap berwajah masam. Sampai yang ketiga kalinya, wanita itupun gerah melihat tingkah lelaki itu. Namun dia tetap menjaga dirinya, agar tidak sampai membuat dirinya marah-marah di depan umum. Hingga pada akhirnya, kue yang tersisa dalam kantong adalah satu kue. Dengan senyuman manisnya, lelaki itu mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua bagian dan memberikannya kepada wanita itu, tanpa mengucapkan apa-apa.

Tanpa basa-basi, wanita itu menyindir dan mencaci-maki lelaki yang menikmati kue tersebut. Sampai merahlah wajahnya, karena emosinya memuncak terhadap lelaki yang dianggapnya tidak tahu malu dan terima kasih itu. Perkataan keras dan heboh pun terjadi di depan orang banyak namun lelaki itu terdiam dan sedikit tersenyum. Dia berkata bahwa kantong kue yang mereka makan adalah kantong kue miliknya.

Wanita itu pun sontak terkaget dan tak percaya, dia melihat kanan-kiri, apakah kantong kue itu benar-benar milik lelaki yang duduk di sebelahnya. Dan ternyata benar, anita itu pun merasa malu sekali hingga merahlah wajahnya. Akhirnya malah wanita itu yang meminta maaf.

----- Moral dan Motivasi Positive Thinking -----

Positive Thinking Quotes

Menilai seseorang begitu indah bagi diri sendiri apalagi bila dipandang dari sudut dalam diri. Untung bila kita menilainya dengan topi kuning yang selalu positif. Beda halnya bila dengan memakai topi hitam, namanya saja hitam, serasa apa yang dirasakan memang dunia tetaplah berbalut kabut hitam.

Tenang saja, belum tentu yang kita pikirkan merupakan hasil pemikiran atau perasaan orang lain. Yang benar itu positive thinking. Semoga semua tahu apa hikmah berprasangka yang indah. Yang berbahaya adalah ketika virus topi hitam yang kita pakai dipinjamkan kepada orang lain. Positive Thinking itu indah dan merupakan salah satu solusi kehidupan.

Cerita Pendek: Positive Thinking Solusi Kehidupan

CerMin: Istriku Tercinta

Istriku Tercinta membuatkanku segelas susu, meletakkannya di samping novel 'orange girls' yang belum tuntas terbaca semalam. Sementara itu aku masih terlelap, matahari sudah mulai menanjak naik menghangatkan pohon-pohon, membangunkan burung-burung, dan menguapkan butir-butir embun yang menetes pada dedauanan dan rumput-rumput hijau di depan rumah kami yang sederhana.

Istriku Tercinta

Seperti biasa, aku terlambat menyambut mentari yang sangat pagi, karena entah kenapa malam selalu mengajakku bercengkerama, berdiskusi dengan sekian banyak imajinasi yang terpikirkan tentang berita-berita TV yang selalu mengulang hal yang itu-itu saja, tentang film, tentang utopia, tentang harapan yang sampai detik ini belum juga kusulam dari sisi mana, tepatnya belum kumulai sama sekali, dan yang paling kuat memeluk sisi intuisi adalah cinta dari perempuan yang membuatkanku segelas susu.

Aku terbangun dari mimpi-mimpiku, memang pemalas, dan dia menata beberapa buku yang terbongkar di rak kecil itu. Novel orange girls di letakkannya pada tempat paling atas, dia tahu dan sangat paham buku itu belum usai aku baca. Dia menjaga setiap apa yang kusenangi, setial hari seolah-olah mencatat dalam pikiranya setiap aktivitas yang bisa membuat jiwa ini tersenyum, perempuan kerap memang menjadi pelengkap dari sisi kerumitan lelaki pun sepertiku.

Sementara aku mencari cahayaku dari setiap buku yang ditulis oleh siapa saja karena aku yakin sebuah tulisan atau karya apapun pasti menyimpan sebuah renungan, sebuan telaah, dan sebuah eksplorasi kontempalasi manusia akan sesuatu, sesuatu yang pada akhirnya lahir dan menuju manusia sendiri. Para ibu, seperti juga dia selalu mendongengkan kepada putra-putrinya tentang sebuah dunia, di dalamnya ada seni, politik, kejahatan, retorika, buah strawberry, coklat dan tentang dunia yang semakin tua dan renta. Dunia ibarat seorang kakek yang tak pernah dewasa, sangat kekanak-kanakan.

Istriku Tercinta pict

Aku menjalani siang tadi seperti biasa, kebanyakan jiwaku dikendalikan oleh sesuatu yang bising, itulah sebabnya semua itu kerap membuat kita kelelahan. Tak banyak yang bisa diperbuat di dunia yang memang hanya merangkak.

Hanya Cinta yang bisa membuat kita terduduk, menatap langit yang luas di atas sana. Kuperhatikan, cinta yang istriku berikan seperti harapan yang terlihat pada putriku yang gemar mencoret dinding-dinding kamar. Dia memberiku kebebasan tapi menjeratku dengan kasihnya hingga tak pernah lepas.

Cerita Mini: Istriku Tercinta

Kisah Antara Sabar dan Mengeluh

Antara Sabar dan Mengeluh

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."

Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Sabar Iman pict

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?". Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?". Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?".

Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?". Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."

-----Cerita Teladan-----

Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
"Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
"Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.

Mengeluh Complain pict

Dan sabdanya pula, "Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah). Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

Kisah Teladan : Kisah Antara Sabar dan Mengeluh

Seandainya Aku adalah Tuhan

Seandainya Aku adalah Tuhan

Pemandangan biasa yang selalu aku lewati, dedaunan hijau menari-nari mengikuti iringan angin, rumput-rumput pendek bergoyang-goyang seirama, dan warna hijau mendominasi sejauh mata memandang. Tak ada pepohonan yang sakit, semua tumbuh dengan subur, daun-daun hijau lebat senantiasa memayungi pepohonan itu.

Tidak terbayangkan betapa indahnya melihat semua itu ketika aku melewati jalan setapak ini, tertata rapi dengan batu-batu kali yang ditanam di tanah. Perlahan berjalan menapaki jalan bebatuan ini, memandang hijaunya rumput, berhati-hati agar tidak menginjaknya. Aku menikmatinya, jalan menuju negeriku.

Dimana Tuhan

Semakin berjalan, semakin banyak yang bisa aku lihat. Pemandangan berganti menjadi suatu tontonan yang tidak membosankan untuk menemani perjalananku ini. Dari pepohonan dan rerumputan hijau, kali ini bukit-bukit berjajar tidak beraturan. Terlihat dari jauh bukit batu berdiri tegap menantang langit, diselingi sedikit rumput liar dan pohon kecil di badan bukit. Memberi warna tersendiri untuk bukit-bukit itu, tidak hanya warna batu saja yang terlihat, diselingi warna hijau nampak bukit semakin terlihat sedap untuk dipandang.

“Ahh..!!Aku tidak menyukai ini!!” Perkataan yang selalu muncul dalam hatiku ketika aku mulai masuk ke perbatasan negeriku sendiri.

Di balik bukit-bukit batu yang baru saja aku lewati selalu saja bersembunyi hal-hal buruk di baliknya. Bukan hanya pemandangan yang tidak enak dipandang, rumah-rumah yang tidak tertata rapi, kelakuan orang-orang di dalamnya, sungguh membuatku tidak ingin kembali ke negeriku sendiri. Tetapi apa daya, aku lahir di negeri ini, aku membanting tulang untuk negeri ini. Setidaknya aku tidak terlalu malu dengan semua ini, negeriku ini selalu bersembunyi di balik bukit-bukit batu yang mengelilinginya, memberiku cukup ketenangan tidak banyak orang lain melihat.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku dan penduduk lainnya hanya bisa diam saja, menutup mulut rapat-rapat, mengaliri telinga dengan keringat yang terus mengucur. Mencari kesibukan sendiri, terus bekerja untuk tidak mendengarkan apa yang diperintahkan pada kami.

Seenaknya sendiri para penguasa memerintah, mengambil hak kami seperti merampas permen dari anak kecil. Begitu mudahnya hak kami dirampas, hak untuk hidup, hak untuk keadilan. Kami hanya lah rakyat yang tidak punya apa-apa, terinjak-injak oleh orang yang lebih berada, diinjak layaknya semut yang sedang berusaha mencari kehidupannya.

-----Cerita Pendek-----

Uang menjadi senjata utama di negeri ini, menentukan hidup mati seseorang. Seandainya saja aku dan penduduk lainnya punya uang, tidak akan begini nasibku. Tidak akan mereka bisa mengambil nyawa anakku!! Nyawa yang terbuang sia-sia hanya karena anakku dituduh mencuri beras. Tidak ada keadilan, sang hakim yang katanya bijak, nyatanya dengan mudahnya mengetukkan palu, palu yang mencabut nyawa anakku.

Dibalik semua itu lagi-lagi uang lah yang berperan penting, orang-orang berada tidak ingin negeri yang mereka akui sebagai negeri mereka ini penuh sesak oleh orang-orang tak berguna seperti kami. Tidak ada yang bisa keluar dari negeri ini, kami dipenjara di balik bukit-bukit batu. Hanya ketika kami bekerja paksa untuk mengambil kekayaan alam kami boleh keluar dari negeri ini, itu pun hanya sebentar. Mengangkut hasil alam yang sudah di dapat, membawanya dengan tulang-tulang kurus kami.

Aku Tuhan

Udara yang berbeda ketika kami keluar, udara kebebasan yang begitu segar, udara yang sudah lama tidak kami hirup. Kebebasan, keadilan, hidup layak.Itulah yang selalu aku teriak-teriakkan, teriakan keras dalam hati, tidak mampu jika mulut kecilku ini harus berteriak keadilan, harus menuntut kebebasan. Dengan mudah sabetan pedang akan mendarat di mulutku jika kata-kata itu keluar dan terdengar banyak orang.

Seandainya aku adalah Tuhan, aku akan melakukan banyak hal untuk negeri ini. Aku akan membutakan para hakim, akan aku ambil matanya, bukannya hukum itu harusnya buta??!! Tidak akan ada hakim yang bisa melihat, tidak akan tahu berapa uang yang ia dapat ketika disuap. Tidak akan bisa dia melihat mana orang yang miskin, mana orang yang kaya. Dia hanya bisa mendengar, mendengar dengan telinga mereka, mendengar dengan hati mereka, mendengar mana yang merupakan kebenaran, mana yang merupakan kebohongan.

Para pemimpin negeri ini akan aku ambil mulutnya!!!Tidak perlu banyak bicara, tidak perlu banyak memerintah sana dan sini. Tangan dan kaki lah yang banyak bekerja, biarkan mereka bicara dengan bahasa isyarat, bicara seperlunya, lebih banyak memberi contoh dari pada memerintah,lebih banyak bekerja dari pada berbicara. Akan aku buat lubang yang lebih besar lagi di telinga mereka, semakin jelas mendengar rakyatnya, dan semakin peka pada rakyatnya. Tapi sayang aku bukanlah Tuhan, bukan seorang yang bisa melakukan segalanya.

Cerpen Andai Aku Tuhan by kompasiana.com.

Cerpen Sebungkus Rokok Penguji Iman

Cerpen Sebungkus Rokok Penguji Iman

Jalan beraspal dimalam hari menyuguhkan suasana yang merekah. Lampu penerang di pinggiran jalan benderang menyapa para pengguna kendara yang melaju dengan bermacam aktivitasnya. Sementara atap langit juga berwarna sempurna. Dengan sedikit awan dan gemintang yang berkedip mengokohkan diri sebagai penerang jagad di malam hari.

“Naik keleta api tut…tut…tuuuut…. ciiiyapa hendak ikuuuut” si kecil Ais bernyanyi riang melantunkan lagu kesukaannya meski dengan lidah yang masih cedal dan bait yang itu itu juga.
“Naik keleta api tut…tut….. tuuuut….. ciiiiiy”
“Adeeek nyanyinya dari tadi Cuma itu aja yang lain dong adek” teriak Udin, si kakak yang duduk didepan bapaknya. Jok sepeda motor yang ringkih itu dinaiki empat beban sekaligus tanpa kompromi.


Maman, Yati-istrinya, Udin dan Ais-kedua anaknya. Tak perduli pada kuda besi yang payah dan tertatih. Keluarga kecil itu tampak bahagia. Maman mengajak mereka ke alun-alaun kota. Sekedar menghibur keluarga untuk jajan dan makan-makan di tempat yang berbeda.

‘Ah, rasanya belum lengkap’ benak Maman merasa ada yang kurang untuk melengkapi kegembiraan malam ini.

“Mampir dulu beli rokok” ucap Maman seraya memberhentikan motor tuanaya ke sebuah toserba agak mini.

Berbinar kejora Maman melihat sekotak batang-batang penghasil asap itu disodorkan kepadanya. Dengan sigap ia serahkan lembar merah muda bergambar mawar kepada penjaga toko itu. Senyumnya mengembang membayangkan gurihnya kepulan asap yang akan segera dinikmatinya.

“Ini mas kembaliannya“ beberapa lembar diterima Maman. Ia terkejut.
“Lho Mas uang saya tadi seratus ribu, kok kembaliannya cuma empat ribu??” ucap Maman penuh keyakinan karena sejak di rumah yang ia masukkan ke dompet hanya dua lembar seratus ribuan dan dua puluh ribuan, gajinya bekerja tiga hari memasang keramik di rumah Haji hasan.

“Ngawur sampeyan !! uang sepuluh ribu bilang seratus ribu” bantah penjaga toko. Maman mengecek kembali dompetnya. Tapi ia sangat yakin tidak membawa uang pecahan sepuluh ribuan.
“Saya tadi bawa uang cuam 100.000an dan 20.000an Mas, sampean yang ngawur” sengit Maman penuh keyakinan.
“Nih kalau Mas nggak percaya, ini uang sampean tadi” si penjaga menunjukkan uang pecahan 10.000an kepada Maman. Jelas-jelas ia tak mengenali uang yang telihat lecek itu. Tapi lututnya terasa lemas. Ia tak bisa berkutik. Baru tersadar ia telah dicurangi.

‘Astaghfirullah…..’ batin Maman beristighfar berulang-ulang untuk meredam emosi. Rasionya berkata. Meskipun ia marah-marah saat ini tetap ia yang akan dianggap salah karena memang tak punya bukti. Dengan langkah lemas ia pergi meninggalkan toserba itu.

“Horeeee, ayo belangkat Bapakku cayang” sikecil Ais tertawa dengan jenaka. Tiga wajah cinta itu masih menantikan malam yang rencananya akan mereka ukir seindah-indahnya. Batin Maman meringis ngilu.
“Ayoooo kita kemon…!!” dengan riang Maman menjalankan motornya kembali. Ia tak ingin merusak malam yang terlanjur di angan indah oleh mereka.

Dalam laju perjalanannya Maman masih terbayang peristiwa tadi. Betapa sakit hatinya. Keringat yang ia cucurkan demi rupiah untuk keluarganya diambil dengan culas oleh orang lain.


“Ya Allah… berikanlah rizki yang lebih berkah untukku dari pada yang telah di ambil orang tadi dan” ……… Maman menghirup nafas panjang, maksud hati ingin mendo’akan keburukan pada orang yang telah mendholiminya ia urungkan.

“Ya Allah, jika orang itu masih saudaraku seagama, ampunilah dia, semoga ia menjadi orang yang lebih baik dan tak ada lagi orang jadi korban penipuannya sebisanya” Maman meredam emosi yang meloncat-loncat dalam dadanya.

Tinggal selembar dua puluh ribuan, rasa pening menghinggapi kepala Maman. Rasanya tak tega mengajak mereka untuk berbalik arah dan pulang. Tapi dengan selembar uang itu ia dapat membelikan apa ???.

Alun-alun kota itu masih dipayungi langit cerah. Seperti biasanya banyak pedagang makanan berjajar disana. Dari yang memakai gerobak sampai yang membuat duplikat lesehan dengan menggelar plastik terpal untuk sekedar alas duduk pelindung dari rumput yang basah dan kotor. Ada juga pedagang mainan, aksesoris, jilbab, baju anak-anak dan lain-lain. Di samping itu masih ada lagi beragam arena bermain seperti mandi bola, odong-odong, kereta mini dan semacamnya. Benar-benar tempat refreshing bagi warga kelas menengah kebawah yang murah meriah.

Wajah Udin dan Aisy terlihat sangat sumringah. Sasaran mereka di arena bermain adalah mandi bola. Mereka berteriak dan tertawa sepuasnya. Meluncur dan dan tejun tanpa takut tenggelam. Wajah sang Ibu bersemu bahagia melihat anak-anak yang ceria itu. Sementara Maman menyedot dan mengepulkan batang-batang rokok termahalnya dengan senyum yang pura-pura.

“Beli mie ayam ya Mas, itu lho yang Mie ayam ceker, sepertinya enak” Yati, sang istri merajuk sembari senyum-senyum.
“Ais mau roti bakar pak…!”
“Udin mau pisang molen….!!” Maman semakin menyedot rokoknya sambil menghitung dalam hati. Cukup tidak ya? Ah masih cukup, biar besok makan lauk ikan asin yang penting malam ini semua gembira. Ia tak tega membagi tragedi yang baru saja terjadi meskipun pada istrinya.

Dan, ketika malam semakin menggigit dengan hawa dinginnya. Maman dan keluarganya pun kembali pulang kerumah. Dengan membawa jajanan Udin dan Ais yang tidak habis dimakan di alun-alun. Sudah tak terdengar lagi nyanyian cedal Ais. Dia sudah ketiduran kecapekan bermain. Udin pun terkantuk-kantuk diboncengan depan. Hanya Ibu mereka yang makin merapatkan pegangan tangannya.

Malam yang sempurna. Maman bernafas lega, berterima kasih pada dinginnya udara. Hingga kembali disapa hangatnya warna cinta.

-----###-----

Ada keributan kecil pagi itu. Yati menggerutu panjang kali lebar kali tinggi dibagi dua persis rumus volume segitiga.

“Kok tega benar orang itu Mas, kita ngumpulin duit jungkir balik, peres keringet senak-enaknya diambil dengan licik, huh moga-moga dia kualat nanti.” penuh emosi Yati mengekspresikan kekecewaannya.

“Gak sampe jungkir balik non, keringet juga gak sampe bisa diperes… hiyyy gak bisa bayangkan baunya hehehe” Maman menanggapi kata-kata istrinya dengan candaan. Bila ia sudah memanggil istrinya dengan embel-embel ‘non’ pasti ia sungguh ingin menerbitkan senyum di wajah wanita itu.

“Pura-pura bego lagi, dikira Mas saja yang capek kerja, dirumah aku juga gak ada istirahatnya Mas. ngerawat sapi, ngerawat ayam buat mbantu sampean Mas”… ekspresi kekecewaan itu perlahan berubah menjadi kesedihan. Bagi keluarga pas-pasan seperti mereka lembar nominal bergambar mawar pink itu sangat bernilai. Dikeluarkanlah segala unek-unek.

Maman tersenyum masam yang dipoles dengan manis semangka. Betapa semua unek-unek tadi merupakan lukisan hatinya juga.

“Sudahlah, marah seperti apapun uang kita tak akan kembali, di ikhlaskan saja. Kita anggap sedekah yang gak repot-repot mengantarkan ya Non!!!” ucap Maman sembari nakal mencolek dagu istrinya. Yati masih cemberut.
“Sudah…. insyaAllah ada rezeki lain yang lebih besar menanti kita”

Terlihat diteras rumah Udin dan Ais tertawa riang. Mereka sedang asyik cerita-cerita tentang pengalaman seru semalam. Perlahan Yati menerbitkan senyum. Dalam hati ia berbisik,
‘Tawa mereka adalah rezeki terindah…’
‘Dan banyolan Mas Maman adalah rezeki yang murah meriah’ Yati tiba-tiba tertawa. Maman melotot heran.

Ya sudahlah, hari tetaplah menjadi hari meski disapa kemalangan. Toh masih bisa merasakan nikmatnya nasi. Badan sehat, perut lapar dan hati riang masih menjadi nikmat yang tak diragukan.

Hari itu mereka makan berlauk ikan asin dan sayur asem kangkung. Pada siang yang gerah namun dalam sapa mentari nan ramah. Mereka hanya ingin mengisi hari dengan warna indah, ada atau tiadanya rupiah.

Hari mengalirlah apa adanya. Tanpa memaksa deretan angka menjadi syarat sebuah bahagia. Hari terbitlah seangggun mentari yang menguntai dzikir tiada henti.


Rotasi berganti….
Maman pergi bekerja seperti biasanya. Menyongsong rejeki dari orang-orang yang membutuhkan keahliannya sebagai tukang bangunan. Ia beruntung hari itu yang membutuhkan tenaganya masih tetangga yang tidak terlalu jauh. Hingga masih bisa pulang setiap senja. Bila di kampung sendiri tidak ada yang membutuhkan tenaganya ia harus ikut proyek di kota-kota besar yang konsekwensinya harus jauh dari keluarga selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tidur di lokasi proyek dan makan yang bukan masakan istrinya. Pilihan karena tak ada lagi pilihan.

Yati, sang istri yang kerap ditinggal suaminya selama seminggu penuh juga mempunyai pekerjaan yang tidak mudah. Meski ia Ibu rumah tangga sejati. Maman menginvestasikan rupiah yang berhasil dikumpulkan dengan cara memelihara seekor sapi dan beberapa ekor ayam. Selain banyak menanam rumput gajah di kebunnya, setiap ada kesempatan di rumah Maman mencari rumput sebanyak-banyaknya. Atau kalau sedang musim panen padi dia mencari kawul untuk ditimbun sebagai pakan sapi agar supaya setiap ditinggal pergi ikut proyek yang jauh Yati bisa memberi makan sapinya tanpa perlu mencari rumput. Ya… untuk bertahan hidup mereka harus benar-benar bekerja keras mencari rupiah demi rupiah.

Saat warna hari membisik pada senja. Tak ada yang seindah selain berkumpul dengan keluarga. Setidaknya bagi Maman yang sering merasakan kerinduan pada istri dan anaknya saat ia harus menginap berhari-hari di lokasi proyek.

Senja itu, Maman kembali pulang. Membawa senyum dan angan wajah-wajah ceria yang menyambutnya. Dia membawa sekantong duku dan lembar-lembar rupiah upahnya selama seminggu.

“Assalamu’alaikum…!!”
“Wa’alaikum sayang bapak” si kecil Aisy menjawab salam dengan khas dan antusias. Sementara Udin langsung menyambar tas kresek bawaan bapaknya. Dan seperti biasa Maman langsung menuju meja makan tanpa perduli aroma masam tubuhnya.

“Udin dan aisy tadi di kasih sangu sama Mbahnya Mas, katanya baru dapat arisan” cerita Yati sambil senyum senyum.
“Berapa…?”
“50 ribu buat berdua, dititipkan padaku, kira-kira mereka dibelikan apa ya biar nggak habis buat jajan percuma.”
“Buat mbancak’i udin saja Bu, udin kan baru hatam ngaji” Udin yang sedari tadi nguping pembicaraan orang tuanya tiba-tiba ikut menyumbang suara.

“Hmm…”
“Iya, kita sembelih 2 ayam di belakang untuk bikin ambeng dibawa ke musholla saja” ujar Maman mendukung usul anaknya.
“Acik acik… hoye hoye…. Aisy bersorak riang. Yati hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Ia harus siapkan tenaga ekstra buat masak banyak besok.
Hmm… sungguh nikmat mana yang hendak di dustakan.

Cerpen Peraduan Tamansari

Cerpen Peraduan Tamansari

Hujan rintik, bertarian di atas kolam para raja. Mendendang lagu, bertalu kusuma rindu dari perjalanan panjang yang tidak pernah bisa kumengerti. Ketika dalam babak yang sakit aku bertemu kembang di tengah sungai waktu, ketika bermimpi tentang cinta dan kematian.

Entah gejolak yang seperti apa yang mendorongku saat itu. Raja agung melingkari jari manis, terpotong dalam kasak-kusuk pikiran. Memang ada yang mengatakan manusia tempat bertempat salah, manusia bertempat luput, dosa dan seikat kata pembela untuk dosa.


Kenanganku yang jauh teresapi, membuat masuk ke dalam diri. Berselendang marah dan dendam, bertameng kerinduan dan berkeris angkara murka. Aku masuk ke sana, kutemukan diri telanjang. Menatapku bengis.

“Mau apa?”
“Tidak!” aku menggeleng, mencari selisik lain sedang kau mengintip guratan cerita raja dan permaisuri bergumul di Peraduan Tamansari.

“Masih ingat cerita senja?” tanyaku yang telanjang.
“Saat kau membawa lentera, menjadi buta. Lentera itu kau lemparkan sendiri di tugu membatu. Membakar semuanya, termasuk rumput yang dahulu engkau jaga.”
“Tidak!” aku menggeleng, tidak boleh ku kenang pembantaian itu. Terlalu sakit, meski menjadi keburaman kertas kenangan yang tidak sanggup terlupakan.

“Masih ingat cerita pagi?” tanyaku lagi, masih yang telanjang, “Kau terbaring lemas di tanah gersang sampai sebongkah tanah yang kau puja menghidupkan. Sedang di siang harinya, kau tusuk tikam penuh dendam atas apa yang telah engkau tanam sendiri. Berhala itu kau bantai sampai mengalir tidak terbendung.”
“Tidak!” tetap aku menggeleng, tidak usah diingat lagi. “Gelas kaca yang pecah terlanjur jatuh,” aku yang telanjang tersenyum sinis.

“Tidak ingat perjalanan matahari?” tanyanya kembali, telanjang dalam senyum penuh tawa menghina. “Kau bersimpuh melupakan dendam dan kebencian, bersekutu dengan berhalamu menghancurkan kedengkian-kedengkian itu. Itu dulu. Sebelum matamu buta. Sebelum dunia ini gemerlapan di jantungmu.”
“Tidak!” telah aku lupakan hari-hari penuh lapar itu. Ketika perut terus bergenderang, memprotes diri yang tidak pandai memenuhi.

“Tidak? Telah engkau melupakan semua itu?”
“Semuanya? Bahkan bunga Semboja yang telah kau siram dengan pengetahuanmu sendiri?” tanyanya kembali, diriku yang telajang mendekat.


Tangan yang lunglai kurus kerontang berubah menjadi pedang gemerlapan. Terayun cantik membuai mata, sampai memenggal kepala. Kepala jatuh menggelinding, bisa ku saksikan sendiri. Hujan rintik bertarian di muka percik air tamansari. Pertamanan hatiku sendiri.

Dan di saat itu juga, kulihat anakku merangkak dalam senyum. Mendekati nisan, nisanku sendiri. Nisan bapaknya. Apa lagi yang tersisa? Tanyaku pelan, namun hanya tinggal nisan. Sampai anakku sendiri, digendong lelaki telanjang, diajak mengarungi malam dan menyongsong matahari pagi.

“Kita mencari ibumu. Matahari pagi yang telah dipersunting Bapakmu!” ucap lelaki telanjang itu, meninggalkan nisanku, meninggalkan tawa mengejek untukku.

Dalam sendiri, kunantikan matahari pagi. Di sana kusaksikan senyuman indah. Renyah tawa burung-burung, dan gemuruh air yang selalu kurindukan. Dan tubuhku yang telanjang, menari-nari sedang berperang.

Cerita Pendek Peraduan Tamansari by M.D. Atmaja.

Cerpen Kasih Ayah Juga Sepanjang Masa

Sore buta, hujan gerimis membasuh luka. Selintas teringat ungkapan kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Apakah hanya kasih Ibu saja yang sepanjang masa? saya rasa tidak!. Ayah juga punya kasih sepanjang masa, hanya saja caranya yang berbeda. Saya di besarkan oleh Ayah yang memiliki sifat keras dalam mendidik pada anak–anaknya. Bentakan, hardikan dan juga pukulan sudah sering saya terima, dan itu membekas di hati, pikiran di masa depan. Ada yang mengatakan anak kecil tak kan mudah melupakan, tapi ia terbuka dengan rasa maaf yang terdalam.

Masa kecilku dulu selalu diliputi ketakutan, apalagi kalau aku berbuat salah, bayangan Ayah saja sudah membuatku bergetar hebat, suara Ayah yang keras dan wajah seramnya (di kala marah) itu membuatku secara psikologis tertekan hebat.


Saya tumbuh dan besar di mana Ayah memiliki pandangan yang keliru dalam mendidik anak–anaknya, ia berfikir bahwa pendekatan hukuman (fisik dan fsikis) akan membuat anak–anaknya patuh dan menurut. Tapi sayangnya, semuanya hanya di depan matanya saja, kepatuhan dalam ketakutan hanya melahirkan jiwa–jiwa pemberontak. Dan tanpa ia sadari, aku lahir sebagai pemberontak terhadapnya. Di antara saudara–saudaraku, aku yang paling sulit untuk berkomunikasi dengannya, bukan karena benci atau tidak suka. Tapi karena Ayah tipikal orang tua yang sulit di bantah ucapannya, dan aku tak ingin bertengkar dengannya.

Masa pun berganti, aku yang dahulu lemah tak berdaya dan mengantungkan apa pun padanya, kini menjadi pribadi yang mandiri dan berusaha memenuhi kebutuhanku tanpa meminta kepadanya dan itu membuatku makin jauh padanya. Aku ingat pada masa kecilku dulu, aku hidup bersamanya dengan masa kemakmuran dan juga kemiskinan. Dan itu terekam jelas dan berbekas, hingga membuatku merasa cemas pada dua hal itu akan datang padaku pada saat aku berkeluarga nanti.

Cerita Pendek, Di antara masa kemakmuran yang penuh dengan kemudahan dan kemewahan, jujur aku tak mengingkannya semuanya kemewahan itu, bukan karena aku menolaknya tapi karena Ayah menjadi sosok yang berbeda bagiku. Tak ku pungkiri kalau aku pun menikmati kemewahan tersebut, siapa yang menolak uang jajan yang banyak, dan kemudahan lainnya. Tapi itu berbahaya bagiku dan membuatku lemah suatu saat nanti. Dan aku pun bersyukur bahwa ketika kemudahan itu datang, aku bukan bagian dari anaknya yang mengemis kemudahan tersebut.

Aku pun pernah bersamanya pada kemiskinan, yang membuat kami harus pindah kerumah yang sangat kecil dan buruk, tapi aku mensyukurinya. Aku ingat bagaimana atap rumah kamu yang bolong dan bila malam nyamuk begitu banyaknya hingga aku tertidur bak mummi yang semua tubuhku tertutup kain yang tebal, dan itu membuatku selalu terbangun tengah malam, karena rasa panas menderaku.

Aku pun ingat bagaimana ketika rasa lapar menyerang, tapi yang ada di meja makan hanya nasi bubur dan itu pun harus di panasi dahulu agar lebih enak rasanya. Pada saat itu, catatan flashback, aku masih duduk di bangku SMP. Aku teringat bagaimana aku hanya di beri ongkos untuk naik bus ke sekolah karena tidak ada uang jajan padaku dan aku harus menjaga baik–baik uang tersebut agar tidak hilang atau ku habiskan untuk jajan, lalu bagaimana ketika jam istrihat datang, untungnya teman–teman kelasku mau berbagi padaku. Apakah aku menyalahkanmu Ayah? tentu saja tidak, aku teringat bagaimana Ibu menangis karena melihat kami (bersaudara) memakan nasi bubur, padahal dulu kami tidak pernah kekurangan. Dan aku tidak menyalahkanmu, aku hanya bersedih ketika Ayah dan Ibu bertengkar di saat hidup kita seperti ini.

Ada peristiwa yang membuatku begitu sedih melihatmu, ketika Ayah datang dengan berjalan kaki dari tempat yang jauh dan membawa beberapa bungkus indomie untuk makan kami, aku melihatmu di pinggir jalan dengan wajahmu yang lelah dan berat, saat itu aku hatiku menangis melihat perjuanganmu untuk kami. Sayang aku masih SMP pada saat itu, belum mampu untuk membantumu mencari uang, bersikap tidak menjadi bebanmu untuk meminta apa pun yang akan menjadi bebanmu itu lah kata hatiku pada saat itu.


Aku teringat masa itu, lebih dari setahun, hidup seperti itu. Ayah jarang pulang kerumah, hanya pulang jika membawa uang untuk kami sekeluarga. Tuhan, apakah seberat itu tanggung jawab sebagai Ayah? Mengapa hidup ini begitu berat dan penuh tanggisan dan kesedihan. Aku percaya bahwa semua ini adalah pelajaran, pelajaran buat kami sekeluarga, Cerpen.

Masa pun berganti, ketabahan akan menghasilkan buahnya di kemudian hari, Ayah mulai bangkit kembali dan secara perlahan mengeluarkan kami dari rumah yang kecil menuju rumah yang lebih baik. Keadaan pun membaik, apa yang hilang kini telah datang kembali. Allah menganti semuanya dan kini telah ada di depan mata. Keadaan pun berganti, kemakmuran merubah semuanya, saya percaya kalau kemiskinan membuat kita rendah diri sebagaimana kemakmuran membuat kita lupa diri. Dan itu adalah kenyataannya di keluarga ini dan aku termasuk di dalamnya.

Aku termasuk orang yang memiliki sifat yang keras, mungkin ini di wariskan dari Ayahku, aku yang kehilangan sosok panutan di rumah membuatku “lari” dan keluar dari rumah. Aku pun belajar banyak di jalan, hidup di antara putih dan hitamnya kehidupan dan itu membuatku mengerti dan mengenal kehidupan. Kini aku beranjak dewasa dan Ayah pun semakin menua, kami jarang bersua, hubungan Ayah dan anak sungguh seperti tak ada, kalau pun bertemu tak ada kata–kata suara. Ingin rasanya untuk memulai bicara tapi sulit lidah ini untuk berkata dan aku tahu mengapa.

Sepanjang hidupku aku tahu kalau aku selalu di nomor duakan, di antara lainnya selalu aku yang di kalahkan, tapi aku tahu mengapa bukan aku yang mendapatkan, karena aku selalu menolak dan melawan apa mau mu dan aku menerima apa pilihanmu. Tapi karena semua itulah aku menjadi pribadi yang kuat, dan berusaha mencukupi semua kebutuhanku sendiri, bukan seperti anak–anak kesayangmu, yang sampai detik ini masih menjadi beban untukmu. Tapi aku tidak bukan? Karena aku menolak semua pemberianmu sebelum kau memberikannya padaku, bahkan ketika aku jatuh hancur pun aku memilih bangkit sendiri tanpa mu, jalan itu ku pilih bukan karena kesombonganku tapi karena aku ingin tetap tegar sampai tak ada jalan kembali untukku.


Ayah tipikal pekerja keras, aku tahu itu, aku pun termasuk kagum pada kerja keras beliau, seorang tamatan SMA yang memiliki pergaulan yang luas, teman–temannya di mana–mana, sampai aku merasa ia sudah seperti “pejabat” saja. Tak ada yang sulit baginya, rumah dengan harga ratusan juta terbeli, mobil pun terbeli, motor dengan mudah ia berikan pada anak–anaknya. Saya heran dengan kecekatan dan ketepatan bisnisnya. Dari kere, makmur, berlimpah kemudian jatuh miskin, lalu naik lagi dan kemudian berhenti, tapi ia masih terus memberi nafkah kepada anak– naknya, walau sebagian di antara mereka sudah tidak layak mendapatkannya.

Yang kusayangkan mengapa semangat kerja Ayah tidak menurun kepada anak–anaknya, sebagian besar dari mereka malah terus berada “di ketiak” nya. Aku merasa Ayah lah penyebab mengapa saudara–saudaraku seperti itu, terlalu memanjakan mereka, dan memberi kemewahan kepada mereka.

Pada suatu hari kakak memberi kabar untukku, mengabarimu yang terbaring lemah di sana, kau sakit. Aku hanya bisa terdiam untuk beberapa lama dan hatiku berduka. Aku sayang padamu walau tak pernah ku perlihatkan padamu. Aku pun berdoa kepadaNya agar penyakitmu di angkat dan di bebaskan dari rasa sakit yang membuatmu menderita. Aku mencemaskanmu Ayah, ingin rasanya aku duduk di sampingmu tapi sungguh aku tak punya kekuatan untuk itu, aku tahu bahwa engkau ingin dekat denganku sebagaimana aku pun ingin dekat denganmu. Tapi aku yakin Ayah bahwa engkau tahu bahwa aku menyayangimu sebagaimana aku tahu kalau engkau juga menyayangiku.

Di masa kecil dulu, aku ingat bagaimana Ayah selalu mengajakku berkeliling di kota kelahiranku. Pada saat itu aku masih kecil, duduk di depan Ayah yang mengendarai motor, di boncengin Ayah adalah salah satu kenangan terindah untukku, aku tak pernah lupa itu. Ingin rasanya kembali pada masa kecil dulu, ketika aku begitu dekat denganmu. Ayah apa kabarmu di sana, aku ingin di berkeliling lagi dengan sepeda motor itu, di kota Medan tempat ku di lahirkan, tempat masa kecilku yang begitu dekat denganmu, aku merindukan semua itu Ayah, aku merindukan semuanya.

Angin bertiup kencang dan menerbangkan daun–daun yang berguguran, senja mulai tertutup gelapnya langit malam. Setelah menyeka pipiku yang basah, aku berjalan pelan meninggalkan tanah–tanah yang bertiang nama-nama. “Ayah, malam telah datang, aku pamit pulang ya …”.

Aku Pelacur, tapi Bukan Wanita Panggilan

Cerpen: Aku Pelacur Tapi Bukan Wanita Panggilan

Pelacur dan Wanita Panggilan

Jangan membayangkan sosokku seperti pelacur pada umumnya, yaitu dengan pakaian sexi dan menggoda, aku berpenampilan sangat sopan dan tampak sangat religi, aku juga tidak akan bisa di temukan di panti pijat atau di rumah bordil, carilah aku di rumah ibadah di sebuah gereja, karena aku aktivis di sana, dan aku juga ikut bergabung dengan anggota paduan suara dan selalu menyanyikan lagu-lagu demi kemuliaan Tuhan, tapi sebetulnya itu hanya caraku menutupi identitasku dimata komunitasku.

Tak seorangpun yang tahu bahwa aku seorang pelacur, kecuali aku dan Tuhan. Aku sangat rapat menyimpan profesiku ini. Dan aku juga tidak menjual diriku pada sembarang orang, aku sadar betul resiko ketularan penyakit kelamin dan lebih bahaya lagi penyakit aids. Aku hanya mau tidur dengan laki-laki baik-baik yang riwayat hidupnya bersih dan tergolong suami setia, tentu laki-laki itu harus laki-laki yang banyak uangnya dan tidak pelit, sehingga dia tidak akan segan-segan mengeluarkan isi dompetnya beberapa lembar untukku setelah puas menikmati pelayanannku.

Bagaimana aku menjerat korbanku? Begitu mungkin pertanyaan anda sekalian.

Aku akan mencari teman-teman lamaku di jejaring sosial yang sedang trend saat ini, yaitu facebook, biasalah aku lalu berbagi kabar berita, kami bercerita tentang aktivitas kami dan aku akan dengan senangnya berbagi cerita tentang aktivitasku dan kisah hidupku yang aku ceritakan setragis mungkin, sehingga menimbulkan belas kasihan.

Aku akan bercerita bagaimana aku kehilangan suamiku dan bagaimana aku membesarkan Indira anak gadisku seorang diri. Lalu aku akn menceritakan bisnis yang sedang aku jalani, yaitu menjadi suplier kebutuhan kantor, dari teman-teman lamaku itu aku minta dicarikan peluang di perusahaan mereka atau teman-teman mereka, barangkali ada yan bisa memasukkan aku menjadi salah satu suplier di kantor mereka.

Dari perkenalan seperti ini, barulah aku bisa meneliti calon korbanku, bisa temanku yang mengenalkan aku atau bisa juga teman dari temanku yang akan bekerjasama denganku.

Biasanya obrolan ku awali dengan bertanya tentang kegiatannya, kesehariaannya, keluarganya, lalu akupun mulai bercerita tentang kehidupanku, perjuanganku membesarkan anak gadisku Indira, bagaimana Bapaknya Indira meninggalkan kami,tentu saja aku bercerita dengan sedikit menitikkan air mata. Kalau laki-laki itu sepertinya mudah jatuh kasihan aku akan terus menangis sampai dia mengulurkan tangannya untuk memelukku dan selanjutnya aku akan membuatnya tak lagi mampu melepaskan aku. Obrolanpun kami lanjutkan ke kamar hotel, dan sebelum laki-laki itu merapikan bajunya, dia akan menyerahkan beberapa lembar rupiah berwarna merah, atau kalau aku sedang beruntung aku bisa mendapatkan beberapa lembar dolar:

”untuk Indira.” Begitu kata mereka biasanya sambil menyerahkan beberapa lembar rupiah berwarna merah.

Begitulah kira-kira cara kerjaku.
Tapi bukan berarti aku selalu berhasil menjerat korbanku, pernah suatu ketika aku kembali berjumpa dengan teman masa remajaku di Face book, temanku ini berasal dari keluarga baik-baik dan berada, dan aku dengar dia juga sekarang menjadi seorang yang cukup berhasil dalam berkarir, dia mempunyai jabatan penting di sebuah BUMN dan punya keluarga yang bahagia, kehidupan rohaninyapun sangat bagus. Laki-laki seerti inilah yang sangat aku sukai untuk aku jadikan korban pemuas nafsu sekaligus sumber penghasilan.

Kebetulan lagi dia masih terhitung kerabat denganku, kerabat jauhlah.

Singkat cerita,lewat facebooklah kami akhirnya menjalin komunikasi lagi, bertukar nomor HP, dan berjanji untuk bertemu di Ancol pada suatu waktu untuk membicarakan bisnis tentu saja. Aku berharap dari sini pertemuan akan berlanjut kekamar hotel dan beberapa lembar rupiah akan keluar dari dompetnya untukku atau mungkin dia akan menanyakan nomor rekeningku dan akan menstranfer sejumlah angka untuk membayar pelayananku.

Pria ini sudah hampir terjerat dengan perangkapku, dia jatuh kasihan padaku, karena mendengar kisah hidupku dan malah sepertinya hampir jatuh cinta padaku, kesempatan ini benar-benar tidak akan aku sia-siakan, lewat statusku di Face book aku selalu menggambarkan kisah kasih kami dan perasaanku padanya. Syair-syair lagu yang hampir mirip dengan kisah kami selalu aku jadikan status di FB-ku, berharap laki-laki itu akan membacanya dan makin jatuh cinta padaku.

Harapanku hampir berhasil ketika suatu ketika aku menerima telp dari seorang perempuan, bersuara merdu.

“Dengan Paulina?” Sapanya dari seberang sana.
“Ya…,” Aku menjawab setengah ragu-ragu.
“Aku Istrinya Lee, bisa kamu berhenti menelephone suami saya?” Katanya tegas tapi tanpa nada marah.
“Apa hakmu melarang aku menelephone, aku berhak menelephone siapa saja yang aku mau?” Kataku sengit.

“Kamu memang berhak menelephone siapa saja yang kamu mau, tapi itu bukan suamiku, apalagi hal itu kamu lakukan hampir tiap hari dengan durasi hampir satu jam, dan pada jam-jam kerja, yaitu sekitar pukul 10.00 s/d. 11.30, itu tentu aja sangat menganggu kinerja suamiku yang sedang mencari nafkah untuk anak dan istrinya, kalau sampai sumaiku di pecat dari tempat kerjanya apa kamu mau tanggung jawab Paulina?” Tanyanya telak. Aku terhenyak di tempat dudukku, tapi aku masih ingin membela diri.

“Sebaiknya kamu jangan terlalu curiga dech, suamimu itu masih ada hubungan saudara deganku. “ Kataku mencoba untuk menerangkan.

“Saudara? Saudara yang bisa diajak bercinta? Begitu maksudmu Paulina? Aku sangat tahu siapa dirimu Paulina, selain kamu pernah hampir dipenjara gara-gara kasus penipuan, sepak terjangmupun aku sangat tahu, mungkin kamu bisa bersembunyi dari banyak orang tentang siapa dirimu, tapi tidak dari aku Paulina, dan kamu harus tahu bahwa suamiku, aku pastikan tidak akan menjadi korbanmu berikutnya.” Klik…telp ditutup, meninggalkan aku yang bengong di tempat dudukku, serta seribu tanya di kepalaku, dari mana wanita itu tahu banyak tetang aku? Sampai dia tahu persis daftar pria yang pernah tidur denganku, tidak semua memang, tapi dia tahu sebagian besar, membuatku sama-sekali tidak bisa menjawab, dia juga tahu bagaimana trik-trikku menjerat korbanku dengan sangat mendetail dan tepat.

Sejak itu, aku tak lagi pernah mendengar kabar tentang calon korbanku itu, Hpnya susah di hubungi, FB-nya tak lagi aktive seperti dulu. Aku benar-benar kelabakan dan juga penasaran….
Ehm…..karena aku gagal menjerat kobanku kali ini, mungkin anda bisa menjadi korban selanjutnya….maka inilah kisah hidupku.
Namaku Paulina, aku lahir dari sepasang suami istri yang menikah tanpa restu orang tuanya, nenek dan kakekkku, dari kawin lari inilah terlahir aku.

Aku memiliki 2 orang anak gadis, anak pertamaku lahir, karena hubunganku dengan pacarku sebelum kami menikah, setelah tahu aku hamil, pacarku berniat menikahiku, tapi malang tak dapat di tolak dia mengalami kecelakaan dan meninggal sebelum sempat menikahiku.

Anak ke – 2 ku berumur sekitar 10 tahun, hasil pernikahanku dengan suamiku yang meninggalkanku begitu saja ketika usia Indira baru 2 tahun, aku tidak tahu dimana laki-laki itu kini berada, sebetulnya aku tidak terlalu menyalahkan bapaknya Indira yang meninggalkanku, dia pergi karena mendapati aku telah tidur dengan laki-laki lain di salah satu ruangan sekretariat gereja saat aku menjadi panitia pariwisata yang diadakan gerejaku, Bapaknya Indira mengrebek kamar itu dan mendapatiku tengah mereguk kenikmatan bersama laki-laki lain. Sejak hari itu dia pergi entah kemana, tanpa kabar berita. Aku memang liar, tapi aku membungkus keliaranku dengan bersikap sok relegius, aktive di gereja sebagai tim paduan suara, rajin menenteng kitab suci kemana-mana, hapal di luar kepala ayat-ayat kitab suci.

Ciri-ciri fisikku yang mudah dikenali adalah mataku sipit, kulitku putih, tapi aku bukan keturunan Cina, aku sedikit agak gemuk, dengan pipi agak tembem, aku sangat suka memakai baju kebaya dan sarung untuk pergi ke gereja dan aku sangat suka memakai celana dan blus resmi untuk acara-acara tertentu.

O…ya keningku sudah sedikit berkerut, karena aku yang lahir pada tangal 22 Mei saat ini sudah berusia 43 tahun, cukup tua, tapi aku masih PD untuk beraksi mencari korban yang bisa aku ajak tidur dan mereguk kenikmatan dunia.
Akulah Paulina, aku seorang pelacur, tapi aku bukan wanita panggilan, karena aku tidak menerima panggilan untuk melayani tamuku, akulah yang memilih siapa yang bisa tidur denganku.


Penulis: Emily Wu
Cerita Pendek: Aku Pelacur, tapi Bukan Wanita Panggilan

Bumi Semakin Tua

Lelaki itu terlihat gelisah, menatap awan yang mulai berubah kelabu, dari balik jendela. Gerimis mulai berjatuhan membasahi tanah dan pepohonan di halaman rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu. Bau tanah basah yang menyerebak di udara, tidak mengurangi kegelisahannya. Bahkan semakin menjadi, ketika awan menumpahkan air yang tak sanggup lagi ditampungnya. Hujan turun dengan derasnya, membentuk tirai yang menghalangi pandanganya sedari tadi, pada hamparan sawah yang mulai menguning. Guratan kegelisahan semakin tampak diwajahnya.

Air mulai menetes dari atap jerami rumahnya, yang memang sudah lapuk dimakan cuaca. Selapuk harapannya pada panen yang sebentar lagi tiba. Ditengadahkan pandangannya sjenak pada atap rumahnya yang bocor, lalu kemudian melemparkan pandanganya kembali keluar sana. Pada hamparan padi yang mulai merunduk berisi bulir-bulir harapan untuk lumbungnya yang mulai terlihat kosong.


Pikiranya mengambang pada genangan air yang mulai terbentuk disana-sini. Teringat beberpa masa lampau, ketika hujan merupakan anugrah bagi dirinya dan bagi sebagian besar penduduk desa yang masih mempertahankan tradisi turun temurun. Ketika musim masih datang silih berganti dengan teratur, bukit yang masih ditumbuhi pepohonan, pupuk-pupuk kimia belum mencemari tanah, jalanan belum berubah menjadi aspal dan ketika rumah belum berubah jadi tembok-tembok beton yang hanya di huni para lelaki dan anak-anak yang ditinggalkan istri-istrinya menjadi TKI di negeri orang. Memang, ketika musim sudah sulit ditebak, sungai yang kerap meluap ketika hujan datang.

Sebagian dari penduduk desa memutuskan untuk pergi meninggalkan desanya. Berdalih mencari penghasilan yang jauh lebih layak di negeri orang. Begitu juga dengan istrinya, meninggalkan dirinya dan anak semata wayangnya yang baru berumur 5 tahun ketika itu. Sebagian ada yang pulang dengan keberhasilan yang melimpah, namun sebagian lagi pulang denan cerita yang memilukan, bahkan ada yang pulang dengan peti mati. Termasuk istrinya, dengan diantar mobil jenazah dan seseorang yang mengaku perwakilan PJTKI, ia menerima jasad istrinya yang terbujur kaku dalam peti jenazah. Memang tersiar kabar sebelumnya, istrinya “terjatuh” dari lantai 10 apatemen tempatnya bekerja. Tapi Ia telah buang jauh-jauh peristiwa itu, kini ia kembali merenda kehidupan barunya bersama seorang janda beranak satu dari desa sebelah yang ia nikahi. ” Sebab seorang lelaki tidak bisa hidup sendiri tanpa seorang perempuan disampingnya” ungkapnya suatu ketika.

Hujan tak kunjung reda di luar sana, bahkan semakin lebat. Sudah hampir dua minggu hujan mengguyur desanya. Tanggul-tanggul irigasi mulai jebol, tak sanggup lagi menampung air sungai yang mulai meninggi permukaannya. Tak ada yang dapat ia perbuat, tatapannya nanar, menyaksikan sawah yang mulai berupa menjadi genangan air.

Bumi semakin renta, tak sanggup lagi menanggung beban curahan air yang turun dari langit bercampur airmata keluarga dari para TKI yang pulang membawa cerita pilu dari negeri seberang.

by: Tepian Batanghari, 09 Juli 2010.
Bumi Semakin Tua

Cerpen Ayanti

Cerpen Ayanti

Ayanti sudah tak lagi ingin menangis. Ia seperti telah kehabisan air mata. Ia kini mencoba ikhlas dan pasrah. Tangisan darah sekalipun takkan mengembalikan Sudigdo anaknya, Joyce menantunya, juga Magda dan Mega –dua cucu yang amat disayanginya.

Keempatnya telah terbang bersama angin dan iring-iringan awan yang lalu niskala di birunya langit, gumam Ayanti. Mungkin juga mereka telah lumat di balik debur ombak dan birunya laut. Tak ada yang tahu di mana jasad-jasad mereka kini. Tapi, Ayanti percaya arwah Sudigdo kini sedang berbincang dengan mentari, arwah Joyce bercengkerama dengan rembulan, serta arwah Magda dan Mega tengah bercanda dengan gemintang. Itu sebabnya setiap pagi Ayanti kerap membiarkan matahari melahap kulit rentanya. Itu sebabnya setiap malam wanita itu rela berlama-lama duduk di taman belakang rumah. Menikmati sinar rembulan yang kadangkala begitu redup. Memandangi kerlip bintang yang sesekali menghilang.

Tuhan lebih menyayangi mereka daripada aku, sehingga Dia berkenan memanggil mereka lebih dulu. Itulah gumamnya selalu. Dengan bibir yang kadang terlihat tak bergerak.


Kepasrahan itu mengaliri darah dan memenuhi pori-pori tubuh renta Ayanti begitu pagi tadi ia mendengar berita tentang penghentian upaya pencarian bangkai pesawat yang jatuh entah di belahan Bumi mana. Itu juga berarti berjuta penduduk negeri ini, tak ada satu pun yang akan tahu di mana keberadaan mereka. Entah terempas di kedalaman laut mana. Entah tersembunyi di belantara hutan mana. Suka atau tidak suka, mereka seolah dibiarkan hilang begitu saja. Ketakutan dan kekhawatiran yang hampir sebulan memenuhi rongga dadanya serta mendera batinnya kini benar-benar menjadi kenyataan. Bahwa sebagai ibu dan mertua dan nenek dari anak keturunannya, ia takkan lagi bisa bertemu mungkin sampai ia mati sekalipun. Ia bahkan tak lagi punya kesempatan untuk sekadar melihat jasad tanpa nyawa orang-orang yang selama ini memberinya arti hidup. Memberinya keceriaan.

Pada awalnya perempuan itu berharap keajaiban terjadi. Satu, dua, atau bahkan keempat orang yang dicintainya muncul di depan rumah. Apalagi sempat pula diberitakan koran dan tv bahwa ada 10 orang yang selamat. Tapi, harapan itu kemudian disirnakan oleh berita-berita yang simpang siur, makin simpang siur, dan kemudian benar-benar kabur. Dan, akhirnya semuanya menjadi jelas setelah muncul pernyataan penghentian pencarian korban dan bangkai pesawat.

Pada saat-saat seperti itu ia kerap terbayang wajah suaminya dan kerinduan pun menghentak-hentak dan mengoyak-oyak dadanya. Andaikan Mas Hartanto masih berada di sisinya dan mereka menikmati kerentaan berdua, ia mungkin masih punya senyum paling getir sekalipun sembari berbagi duka. Kini semua duka dan nestapa harus dimamah dan ditelannya seorang diri. Tak ada lagi tempat berbagi. Kecuali pembantu-pembantu rumah.

“Keturunanku habis sudah, Tin,” katanya lemah kepada pembantu yang baru saja meletakkan segelas air hangat di hadapannya. “Aku tak lagi punya penerus.”

Sutinah membiarkan kalimat itu meruap bersama hangatnya sinar matahari pagi dan kicau kutilang di dahan-dahan pepohonan angsana di pinggir jalan. Ia memang tak tahu harus mengatakan apa. Ia telah kehabisan kata-kata untuk menghibur majikannya. Lebih dari itu, sejujurnya Sutinah juga merasa amat kehilangan. Batinnya disesaki oleh kerinduan pada kecerewetan Non Magda dan Non Mega. Tak pernah ia menduga ciuman kedua gadis itu sebulan lalu menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir. Seumur hidup belum pernah ia dicium majikannya meski diakuinya hubungan mereka telah begitu dekat. “Biar kamu nggak cepet kangen. Soalnya kami kan mau pergi jauh,” kata Non Magda sebelum tubuh semampainya lenyap di balik kaca gelap mobil. Non Mega pun tersenyum lama sekali kepadanya. “Jaga Omaku ya,” katanya sambil menyibak rambut hitamnya dan kemudian menyusul kakaknya masuk ke dalam van.

Sutinah tak pernah berpikir pergi jauh itu sebagai kepergian selama-lamanya. Baginya, jarak Jakarta – Manado memang tak terbayangkan jauhnya. Apalagi naik pesawat terbang sampai berjam-jam.

“Kalau saja mereka mendengar kata-kataku, Tinah,” kata Ayanti memutus lamunan pembantunya, “mereka takkan celaka. Mimpiku terbukti jadi kenyataan.”

Sutinah mengingat dengan baik ketika perempuan di hadapannya ini menceritakan mimpinya sepekan sebelum keberangkatan tuannya bersama keluarga ke Manado. Tentang matahari yang tiba-tiba tertutup awan. Tentang bulan dan dua bintang yang tiba-tiba tertutup mendung hitam. “Mimpi yang aneh ya, Tin. Aku belum pernah bermimpi seperti itu,” katanya. “Dan, anehnya lagi, aku juga melihat sebuah bintang. Jauh sekali. Kelap-kelip seperti kunang-kunang di kejauhan. Meski mendung, bintang yang satu itu tetap menyala. Kamu pernah bermimpi seperti itu, Tin? Kamu tahu apa artinya?”

Sutinah dengan perasaan sangat menyesal menggelengkan kepalanya. Ia memang belum pernah bermimpi seseram itu.

“Kukira kau pernah bermimpi seperti itu. Dengan begitu kau bisa menjelaskan apa artinya,” kata wanita itu menyambung.
“Maaf, Bu,” sahut Sutinah dengan perasan tak enak. “Mudah-mudahan itu cuma kembang tidur seperti kata orang. Jadi, mungkin lebih baik tak usah terlalu dipikirkan.”
“Sekarang terbukti benar mimpiku, Tin,” perempuan itu menghela napas setelah meneguk teh hangat yang dibuatkan pembantunya. Kehangatan menjalari tubuhnya. Nafasnya terasa lebih longgar. “Itu sebabnya aku sempat melarang mereka berangkat hari itu. Firasatku tak enak. Ah, kalau saja mereka menurut. Atau kalau saja mereka tak berangkat bersama-sama.”

“Kau ingat ketika empat pohon adenium di pot-pot itu tiba-tiba meranggas sepekan sebelum anak dan cucuku berangkat, Tin?” Ayanti kembali bertanya. “Bagiku peristiwa itu tidak biasa. Bukan kebetulan. Batinku mengatakan itu penanda.” Ayanti diam sejenak. Menikmati embusan angin yang bertiup agak kencang. Pohon-pohon cemara emas dan cemara perak gemulai menari-nari. Bergoyang kiri-kanan. Wangi dedaunan rosemary membelai hidungnya. Segar sekali.

“Lalu, sehari sebelum mereka berangkat, burung murai batu kesayangan anakku pun tiba-tiba tak mau bernyanyi. Diam saja seperti berduka. Kau perhatikan tidak, Tin?”
“Iya, Bu. Saya pun heran. Padahal hampir setiap saat ngoceh terus.”
Ayanti tersenyum getir. Matanya nanar menatap ke seberang jalan. Pohon-pohon angsana terus menggoyangkan daun-daunnya. Suara kutilang tak lagi terdengar.
“Burung itu tidak sakit, Tin. Sehat sekali. Bulu-bulunya pun berkilau. Cokelat dan hitam. Lapar pun tidak. Sanijo tak pernah lupa memberinya jangkrik atau ulat bambu lima sampai enam ekor setiap pagi dan sore. Ia juga rajin memandikannya. Jadi, kenapa murai itu berhenti berkicau?”

Sutinah tak menjawab. Ia juga tahu pertanyaan itu memang tak untuk dijawab. Lagi pula, ia cuma ingin menjadi pendengar. Ia berharap dengan bicara seperti itu ibu majikannya ini terhibur. Beban duka batinnya terkurangi.

“Burung murai itu rupanya sudah membaui lebih dulu rencana besar Tuhan. Dia seolah tahu orang-orang yang selama ini merawat dan menyayanginya akan pergi untuk selama-lamanya. Firasatnya lebih tajam. daripada kita. Anugerah Tuhan.”

Sebuah sedan memasuki halaman rumah besar itu. Seorang anak muda muncul. Sambil melangkah hati-hati ia kemudian menyerahkan beberapa berkas surat kepada perempuan renta yang menghadiahinya dengan seulas senyum.

“Uang santunannya sudah dimasukkan ke rekening, Oma,” kata pemuda itu setelah sesaat mengamati Ayanti. Perempuan itu kembali menutupi dukanya dengan seulas senyum. “Saya langsung balik dulu, Oma. Masih ada sedikit urusan. Nanti sore saya kembali lagi. Untuk menemani Oma,” kata pemuda itu sembari berbalik.
“Mamamu baik-baik saja, Reno?” Ayanti bertanya, menghentikan langkah pemuda itu.
“Baik-baik saja, Oma. Cuma kadang-kadang saja menangis. Oma kan tahu, Mama dan Tante Joyce sangat dekat,” jawab pemuda itu. Suaranya terdengar berhati-hati.
“Ya, sudah. Hibur terus Mamamu, Ren. Jangan biarkan ia terus menangis. Seperti Oma ini. Relakan. Ikhlaskan. Mungkin sudah takdirnya.”
“Ya, Oma.”

Berikutnya Ayanti mengambil tangan pembantunya –sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelumnya— seolah ingin mencari kekuatan atau mungkin juga kehangatan. Dari tempatnya duduk Sutinah menatap ujung hidung Ayanti yang mancung dan selalu dikaguminya. Berbeda dengan hidungnya yang nyaris tak punya ujung lancip bahkan seperti datar karena tertutup dengan pipinya yang gembil.

“Yang aku butuhkan bukan uang santunan, Tinah,” katanya sambil membelai tangan Sutinah.

Pembantu itu tergugu. Wajah Magda dan Mega tiba-tiba melintas. Kata-kata mereka ketika menanyakan suvenir apa yang diinginkannya dari mereka berdua seperti baru saja terucap. Dengan sebelah tangannya yang tak tergenggam ia buru-buru menggosok matanya, menahan genangan air yang terasa mau tumpah. Ia tak ingin tanggul pertahanannya bobol.

“Tidakkah kau merindukan mereka, Tinah?”
“Tidak usah ditanya, Bu,” Sutinah akhirnya menyahut juga. Sekuat tenaga ia terus menahan pecah tangisnya.
Keduanya kemudian lama terdiam seperti menikmati hangatnya matahari pagi.
“Ah, aku tak lagi punya keturunan, Tinah. Habis sudah. Punah sudah. Keluarga Hartanto tak punya penerus,” Ayanti berkata dalam desah. “Digdo adalah anak kami satu-satunya.”
Sutinah tak berkata-kata.

***

Di suatu tempat, di sebuah rumah yang asri. Wulandari melipat koran pagi itu. Perempuan belia itu baru saja membaca berita tentang penghentian upaya pencarian pesawat terbang yang hilang bersama lebih dari 100 orang penumpangnya.

Sambil menatap kosong pada dedaunan mahoni di depan rumahnya, ia mengelus perutnya yang membuncit.
“Papa telah pergi untuk selamanya, sayang,” katanya seperti berbisik kepada bayi dalam kandungannya.

Lalu terbayang senyum suaminya, laki-laki yang menikahinya tanpa sepengetahuan istri pertamanya. “Aku akan pergi mengantar Magda dan Mega ke Bunaken. Joyce juga ikut. Jaga bayi kita selama aku tak ada. Ingat, dialah anak laki-lakiku satu-satunya. Dialah penerusku. Nama yang telah kusiapkan juga jangan sampai hilang,” katanya sehari sebelum keberangkatan.

Wulandari membuka tasnya dan menemukan secarik kertas berisi sebuah nama: Digdo Hartanto Air mata perempuan itu kembali mengalir. Bibirnya bergetar.

Penulis cerpen: Tanah Kusir, Maret 2007. Published by Aba Mardjani