Tampilkan postingan dengan label Cerita Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Inspiratif Meninggalkan Malam Pertama Demi Syahid

Kisah Inspiratif - Ketika malam telah menyelimuti kota Madinah Al Munawwarah, bintang -bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan serta mimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu.

Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah naik ke pelaminan. Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud. Hanzhalah minta izin kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan kemantennya.

Pejuang Islam Syahid

Manis macam apakah yang ada pada malam itu? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah?. Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad. Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat, akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Ia tinggalkan malam pertama dengan istrinya untuk mencapai syahid.

Waktu itu Hanzhalah Radiallahuanhu masih Junub, belum sempat mandi besar, melesat memenuhi seruan kebenaran, serta melayang tidak menginjak bumi. Sepasang penganten malam itu melesat dengan membawa senjatanya untuk bergabung dengan Nabi Shalallahu alaihi was salam yang sedang menyiapkan barisan Muslimin, meyiapkan hati untuk melakukan transaksi dijalan Allah, Hanzhalah masuk pasar surga.

Perang sangat dahsyat berkemilau dengan serunya pada awalnya kemenagan diraih tapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju. Akan tetapi beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah Shalallahu alihi wa salam, termasuk di dalamnya Hanzhalah Dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dia maju menghadap Abu Sofyan bin Harb Dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sofyan dari belakang sehingga Abu Sofyan terjatuh dia menjatuhkannya dari atas kudanya seakan-akan dia menjatuhkan kebathilan yang telah mencuri kebenaran dan kebathilan yang mengacau akidahnya. Pada saat itu datanglah Syaddad bin Al Aswad membantu Abu Sofyan melawan Hanzhalah Radiallahuanhu, untuk kemudian salah satu dari dua orang itu bisa membunuh hati yang bersih dengan lemparan lembing yang tembus Abu Sofyan berteriak Hanzhalah dengan Hanzhalah yang maksudnya dia telah membalaskan dendam anaknya yang terbunuh dalam perang Badar. Hanzhalah Radiallahuanhu meninggalkan kita, tetapi bau wangi misik darinya tetap semerbak menyirami jiwa-jiwa generasi sesudahnya agar jiwa yang sedang tertidur menjadi bangkit dengan harapan suatu ketika akan menunggangi kuda-kuda Syahid.

Tanah menjadi suci dengan kemanten kita tadi lalu perang usai mereka yang telah melakukan transaksi telah menjajakan semua barangnya mereka membawa hati mereka dalam genggaman Untuk diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sesuai dengan kehendak-Nya. Mereka yakin bahwa kesungguhan dan kejujuran pada waktu itu adalah kekayaan yang paling berharga. Dan siapa yang sungguh- sungguh jujur dengan Allah tidak akan sia-sia.

Para Sahabat Radiallahuanhu yang masih tersisa mulai mencari saudara-saudara mereka yang masih menanti janji dari langit memilah-milah siapa yang lebih dahulu ke langit. Tangan mereka yang berusaha menyentuh jasad Hanzhalah Radiallahuanhu yang berlumur darah mereka kagum adanya rintik rintik air mengalir dari dahinya seperti butiran-butiran mutiara dan berjatuhan dari sela-sela rambutnya. Ini tentu menjadi misteri. Apa maksudnya sampai kemudian para sahabat mendengar suara Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda: "Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak".

Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dengan mendapatkan harga surga Selamat wahai anda Hanzhalah anda telah mendapat surga orang-orang Aus, Suku Hanzhalah sangat bangga dengannya karena dari suku mereka ada yang dimandikan Malaikat

Sesungguhnya Hanzhalah akan tetap menjadi kebanggaan dan terpatri dalam dada kaum muslimin bukan hanya untuk Aus saja! Semoga Allah ridha terhadap Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu.
sumber

Demikianlah artikel islam yang menceritakan tentang kisah teladan Hanzhalah yang rela meninggalkan malam pertama untuk menjalani perang uhud dan rela mati syahid, semoga dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua. Akhir kata, Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh.

Kisah Inspiratif Meninggalkan Malam Pertama Demi Syahid (end).

Cerita Hidayah - Akhir Hidup Penyembah Berhala

Pada bulan suci ramadhan ini, kita berlomba-lomba untuk meraih amal pahala dengan melakukan berbagai macam ibadah. Namun bagaimanakah dengan orang yang imannya tidak kuat, merekan hanya berpuasa tetapi kurang meningkatkan ibadah lainnya. Dalam hal ini, salah satu upaya untuk meningkatkan iman anda adalah dengan membaca kisah-kisah teladan atau cerita hidayah.

Penyembah Berhala

Cerita Hidayah - Akhir Hidup Penyembah Berhala
Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu dan mendapat seorang laki-laki sedang terdiam menyembah patung.”

Kami berkata kepadanya, ‘Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat.’

Dia bertanya, ‘Kalau demikian, apa yang kalian sembah?’

Kami menjawab, ‘Kami menyembah Allah.’

Dia bertanya, ‘Siapakah Allah?’

Kami menjawab, ‘Dzat yang memiliki istana di langit dan kekuasaan di muka bumi.’

Dia bertanya, ‘Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?’

Kami jawab, ‘Dzat tersebut mengutus seorang rasul kepada kami dengan membawa mukjizat yang jelas, maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami mengenai hal itu.’

Dia bertanya, ‘Apa yang dilakukan rasul kalian?’

Kami menjawab, ‘Ketika beliau telah tuntas menyampaikan risalah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut ruhnya. Kini utusan itu telah meninggal.’

Dia bertanya, ‘Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?’

Kami menjawab, ‘Dia meninggalkan kitabullah untuk kami.’

Dia berkata, ‘Coba kalian perlihatkan kitab suci itu kepadaku!’

Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya. Dia berkata, ‘Alangkah bagusnya bacaan yang terdapat dalam mushaf itu.’ Lalu kami membacakan beberapa ayat untuknya. Tiba-tiba ia menangis, dan berkata, ‘Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.’ Kemudian ia memeluk Islam dan menjadi seorang muslim yang baik.’

Selanjutnya, dia meminta agar diizinkan ikut serta dalam perahu. Kami pun menyetujuinya lalu kami mengajarkan beberapa surat Al-Quran. Ketika malam tiba, sementara kami semua berangkat tidur, tiba-tiba dia bertanya, ‘Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu juga tidur?’

Kami menjawab, ‘Dia Hidup terus, Maha Mengawasi dan tidak pernah ngantuk atau tidur.’

Dia berkata, ‘Ketahuilah, adalah termasuk akhlak yang tercela bilamana seorang hamba tidur nyenyak di hadapan tuannya.’ Dia lalu melompat, berdiri untuk mengerjakan shalat. Demikianlah, kemudian ia qiyamullail sambil menangis hingga datang waktu subuh.

Ketika sampai di suatu daerah, aku berkata kepada kawan-kawanku, ‘Laki-laki ini orang asing, dia baru saja memeluk Islam, sangat pantas jika kita membantunya.’ Mereka pun bersedia mengumpulkan beberapa barang untuk diberikan kepadaya, lalu kami menyerahkan bantuan itu kepadanya. Seketika saja ia bertanya, ‘Apakah ini?’

Kami menjawab, ‘Sekadar infak, kami berikan kepadamu.’

Dia berkata, ‘Subhanallah. Kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah dzat lain (bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekalipun demikian, dia tidak pernah menyia-nyiakan aku…. Maka bagaimana mungkin dan apakah pantas Dzat yang aku sembah sekarang ini, Dzat Yang Maha Mencipta dan Dzat Maha Memberi rezeki akan menelantarkan aku?’

Setelah itu, dia pergi meninggalkan kami. Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa ia dalam keadaan sakaratul maut. Kami segera menemuinya, dan ia sedang dalam detik-detik kematian. Setiba di sana, aku ucapkan salam kepadanya, lalu bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan?’

Dia menjawab, ‘Keinginan dan harapanku telah tercapai pada saat kalian datang ke pulau itu, sementara ketika aku tidak mengerti kepada siapa aku harus menyembah.’

Kemudian aku bersandar pada salah satu ujung kainnya untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba saja aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi melihat taman yang di atasnya terdapat kubah di sebuah kuburan seorang ahli ibadah. Di bawah kubah terdapat tempat tidur sedang di atasnya tampak seorang gadis sangat cantik. Gadis itu berkata, ‘Demi Allah, segeralah mengurus jenazah ini, aku sangat rindu kepadanya.’ Maka aku terbangun dan aku dapati orang tersebut telah mati. Lalu aku mandikan jenazah itu dan aku kafani.

Pada malam harinya, saat aku tidur, aku memimpikannya lagi. Aku lihat ia sangat berbahagia, didampingi seorang gadis di atas tepat tidur di bawah kubah sambil menyenandungkan firman Allah.

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
(Sambil mengucapkan), ‘Salamu ‘alaikum bima shabartum.’’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 24) (Al-Mawa’izh wal Majalis, 40).

Sumber tulisan dari kisah muslim yang mengutip dari: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan 5, Shafar 1430/2009.

===

Demikianlah sebuah kisah hidayah dari seorang penyembah berhala yang masuk Islam sebelum meninggal dunia. Semoga bermanfaat bagi anda dan dapat meningkatkan iman. Akhir kata, Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh.

Rasa Terpendam dalam Penantian Panjang

Di bawah teriknya matahari siang, hari sabtu yang kedatangannya dinantikan selama 4 tahun menyelami bangku kuliah. Seorang perempuan dengan kebaya cantiknya berjalan menenteng topi toga dan ijazah yang baru diterimanya.

Dia mencari sosok yang dikenalnya, sosok yang ia pun tahu tidak mungkin datang saat itu. Tapi sudut matanya tetap saja bergerilya mencari sosok yang diharapkannya. Bukan bunda, bukan ayah, bukan abang dan adiknya, bukan pula teman-teman se-genk-nya karena mereka sudah pasti hadir di sini.

Dipasangnya wajah penuh senyum setiap kamera men-shoot wajahnya, senyum getir tentunya. Jika ini bukan hari besarnya sudah barang tentu dia tidak mau difoto dengan senyum pura-pura. Dia menyadari bahwa dia tokoh utama dalam acara kali ini, keluarga dan teman-teman hanyalah figuran yang ikut merayakan keberhasilannya menyandang gelar sarjana. Dia merasa sendiri di tengah hingar bingar kebahagiaan.

Dia resah mengingat pertemuan terakhirnya dua bulan yang lalu, saat itu tak sepatah katapun diucapkannya sebagai jawaban dari pertanyaan si laki-laki. Impian yang mereka bayangkan terasa begitu manis, begitu menawan, tapi hanya mimpi belaka jika tanpa jawaban ‘iya’ darinya.

Penantian Cinta Panjang


Perempuan itu mencintai si laki-laki sepenuhnya, tapi dia takut.
Dia ingin menjawab iya tapi takut untuk mengungkapkan
Dia ingin menjawab iya tapi takut kehilangan impian yang sudah dirancangnya
Dia ingin menjawab iya tapi takut menghambat ambisi-ambisi terpendamnya

Kemegahan bangunan kampus seolah mengahardik ketakutan-ketakutannya yang dangkal, menertawakan logikanya yang bersebrangan dengan kata hatinya. Ingin sekali dia mengulang masa itu dan dengan lantang menjawab IYA. Kini semua sudah terlambat, si laki-laki sudah jauh di belahan bumi yang lain. Perempuan itu hendak berteriak sejadi-jadinya mengabaikan orang-orang disekitarnya, namun mulutnya terkunci.

Dalam mobil keluarganya perempuan itu menyusuri gerbang keluar dari kampus. Dilihatnya tumpukan bunga-bunga dan kado yang dia dapat hari ini. Matanya tertuju pada bungkusan kado berwarna hijau. Wolfsburg, dibacanya kota asal pengirimnya di sudut kanan atas. Jantungnya berdetak cepat demi membuka kertas pembungkusnya. Sebuah scrapbook warna coklat muda, terselip selembar kartu ucapan di dalamnya.

“Jika kamu mau, rancanglah impian-impianmu di scrapbook ini. Dua tahun lagi aku akan datang untuk mengeceknya. Apakah rancanganmu sudah benar atau belum. Semoga Allah menghalalkanku masuk di setiap inchi kehidupanmu pada saat itu”

Sekarang perempuan itu hanya bisa mempersembahkan senyuman terbaiknya. Dua tahun lagi akan dipersembahkannya rancangan kehidupan terbaik yang bisa dibuatnya untuk si laki-laki. Dua tahun yang akan sangat dinantikannya, sebuah penantian panjang.

Rasa Cinta Terpendam

Cerita Pendek: Rasa Terpendam dalam Penantian Panjang

Apakah ini Rasa Cinta ?

Senja kala itu menyuguhkan keindahan tidak seperti biasanya, terpancar cahaya merah berbaur orange mengiringi kepergian sang surya. Aku yang sedari tadi duduk di tengah pintu kosku yang terbuka dan memandang langit penuh rasa kagum, dan tanpa ku sadari posisi kakiku bersilah. Aku seharusnya meluruskan kedua kakiku, merenggangkan tiap otot yang terasa kaku seusai mencari tiap tetes keringat yang berharga. Keringat yang tidak hanya melindungi dari wabah penyakit, tetapi juga untuk menyehatkan pikiran dan hati yang setiap hari terisi oleh hitam putih dunia.

5.15 PM, aku berniat memanjakan diri dengan membasuh tubuhku dengan air yang menyegarkan. Sejenak sebelum aku berdiri, seorang gadis berseragam Madrasah Aliyah datang melintas di depan kedua mataku. Dia menghentikan langkah kakinya dan memandangku penuh keanehan dan tanda tanya, kemudian kau tinggalkan senyum manismu begitu saja. Kau pun berlalu, sedangkan aku masih bingung apa yang sedang terjadi. Tapi aku tidak mau larut memikirkannya, segera ku tepiskan dan beranjak melanjutkan niatku.

Rasa Cinta

Sehari berlalu, tak ada sedikitpun waktu untuk memikirkan sang gadis karena sifatku yang selalu tidak peduli dengan cewek. Sebagai catatan, aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah kelas tiga SMA tak pernah mengenal apa itu cinta, bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Aku selalu bersikap cuek dan mengabaikan setiap cewek yang mencoba mendekatiku, mungkin aku terlalu sibuk dan menikmati kesendirianku. Aku juga tidak menghiraukan orang-orang berkata pa tentangku, nggak laku atau apalah, yang jelas aku bahagia.

Dua hari berselang, di hari minggu yang panas, aku kembali bertatap muka dengan sang gadis. Saat itu aku sedang membuka jendela kamarku, berharap sinar mentari akan membangunkan teman-temanku yang masih tertidur pulas, dan saat itu juga kau kembali melintas di samping kosku. Kali ini kau berjalan bersama teman-temanmu, dan seperti sebelumnya kau tinggalkan senyuman. Kau pun berhenti di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang mengantarkanmu ke sekolah, aku masih terpaku memandangmu walau kau berdiri membelakangiku.

Aku mulai merasakan hal aneh dalam diriku, sel otakku bekerja tidak pada porosnya, hatiku pun berdetak kencang mengiringi tiap irama jantungku. Aku berusaha untuk menetralkan keadaan, ku dengarkan lagu-lagu pop jadul yang tersua dari radio Merdeka FM dengan nada yang menentramkan hati. Semua itu hanya sesaat kala iklan radio disuarakan.

'Daripada bingung nggak menentu, lebih baik menjahili tema-temanku yang masih molor', gumamku dalam hati. Aku mulai melancarkan serangan dengan mengikat tali pada mereka satu sama lain, dan juga memberikan bedak dan coretan spidol di wajah mereka. Belum selesai misiku, mereka terbangun dan menyerangku balik, kami pun bertingkah layaknya anak SD. Tapi tak apalah, hidupku kembali normal jika berbagi canda-tawa dengan mereka.

Keesokan harinya. ..
'Siang yang membosankan, lebih baik ngopi daripada duduk di bangku sekolah', gerutuku sambil memandang teman-teman sekelasku yang membosankan, yang kebanyakan anak OSIS yang sok cool di hadapan para cewek. Aku pun meninggalkan dua pelajaran dan kembali ke kos lewat pintu rahasia, maklum aku termasuk kategori murid pemalas yang sering bolos. Aku tahu betul celah untuk keluar dari sekolah, selain itu juga kosku juga hanya berjarak beberapa meter.

Sesampainya di kos, ku rebahkan diri sejenak sambil mendengarkan lagu mancanegara EBS FM. Setengah jam berlalu, aku bangkit dan mengambil kunci motor temanku yang biasanya ditaruh di kamarku dan ku keluarkan moror supra x dari garasi. Baru setengah kerangka motor melewati pintu, aku terkejut karena sang gadis telah berdiri satu meter di depanku menunggu angkutan umum. Dia menoleh ke arahku dengan senyuman khasnya, aku jadi bingung seakan kedua tangan dan kakiku tidak bisa bergerak.

'Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus mengantarkannya ataukah aku kembali bersikap cuek', keluhku. Hati kecilku pun berbisik, aku tak tega membiarkan paras cantiknya tersengat panasnya sinar mentari. Aku pun memaksakan diri untuk memenuhi isyarat hati, ku langkahkan kaki canggung mendekatinya.

Apakah ini Rasa Cinta

"mmmm, mau nggak aku anterin ke sekolah", tanyaku to do point karena aku nggak bisa basa-basi.
"nggak usah mas", jawabnya singkat.
"memangnya mas mau kemana", sahut temannya.
"mau ngopi ke arah yang sama dengan sekolah kamu", aku menjawab dengan spontan, padahal warung yang aku tuju berbeda arah. Aku semakin bingung dengan hati dan pikiranku.
"ya kalau nggak repot, kita ikut numpang, he he", balas temannya sambil mencolek sang gadis dan dia pun menurut.

Aku pun akhirnya membonceng keduanya, mengantarkan ke sekolah. Sang gadis duduk di tengah, aku menjadi salah tingkah dan perasaanku pun bercampur aduk. Dalam perjalanan, tidak ada satu kata pun yang terlintas di antara kami, hingga sekitar 20 meter sebelum sampai di tujuan.

"kamu nggak sekolah tha?", suaranya yang merdu memecahkan keheningan suasana.
"emmm, sekolah kok, tadi memang kelasku pulangnya agak cepet", aku semakin bingung mengapa aku harus berbohong demi citra baikku di depannya.

Suasana pun kembali kaku, sampai ku hentikan motorku tepat di depan pintu gerbang sekolahnya. Keduanya turun dan mengucapkan terima kasih kepadaku, namun aku tak membalas ucapan tersebut karena bibirku tiba-tiba berkata tanpa kusadari "namamu siapa?". "xxxxx", sang gadis membalas dan diikuti dengan temannya. Aku pun langsung berpaling dan menyalakan mesin motorku, sang gadis kembali mengucakan terima kasihsambil tersenyum. Aku pun sontak membalasnya hanya dengan senyuman tipis tanpa berkata.

Di perjalanan ke warung kopi, ku lajukan kencang motorku berharap rasa gundahku menghilang bersama angin. Semua itu sia-sia, sesampainya di warung kopi aku terus memikirkannya. Aku mulai mengagumi para cantiknya, keelokan wajahnya dan senyum manisnya. Perasaan itu berkecambuk di setiap detik nafasku, tapi seenggaknya aku merasa agak lega karena sudah mengetahui namanya.

"Apakah ini yang dinamakan cinta, apakah ini rasanya jatuh cinta", itulah yang selalu menghantui pikiranku tapi selalu kutepiskan bahwa aku tidak jatuh cinta padanya, melainkan hanya mengaguminya.

Cerpen: Apakah ini Rasa Cinta ? To be continued.... .....

Positive Thinking Solusi Kehidupan

Di teras stasion, seorang wanita duduk santai dengan majalah di tangan kanannya dan sebuah kantong kue di tangan kirinya. Dia terlihat tergesa-gesa saat berjalan menuju arah bangku tadi. Ternyata dia takut ketinggalan kereta api. Saking cueknya, dia tidak sadar jika seorang lelaki telah duduk di sebelah kanannya.

Dia lalu membaca majalah yang tadi dibawanya sambil memakan kue, satu demi satu dimakannya, namun wanita itu merasa risih ketika lelaki yang duduk di sebelahnya tiba-tiba juga memakan kue itu. Pertama, dia membiarkannya, mungkin lelaki ini tidak tahu atau memang sudah tidak bisa lagi menahan laparnya. Wanita itu tidak menanggapinya sebagai sebuah masalah. Lalu dimakanlah satu potong lagi, namun lelaki itu ikut mengambil dan memakan kue itu lagi.

Positive Thinking Kehidupan

Dengan pandangan kesal wanita itupun dengan terpaksa menolehkan wajahnya ke arah lelaki itu. Namun dia hanya tersenyum, sedangkan wanita itu tetap berwajah masam. Sampai yang ketiga kalinya, wanita itupun gerah melihat tingkah lelaki itu. Namun dia tetap menjaga dirinya, agar tidak sampai membuat dirinya marah-marah di depan umum. Hingga pada akhirnya, kue yang tersisa dalam kantong adalah satu kue. Dengan senyuman manisnya, lelaki itu mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua bagian dan memberikannya kepada wanita itu, tanpa mengucapkan apa-apa.

Tanpa basa-basi, wanita itu menyindir dan mencaci-maki lelaki yang menikmati kue tersebut. Sampai merahlah wajahnya, karena emosinya memuncak terhadap lelaki yang dianggapnya tidak tahu malu dan terima kasih itu. Perkataan keras dan heboh pun terjadi di depan orang banyak namun lelaki itu terdiam dan sedikit tersenyum. Dia berkata bahwa kantong kue yang mereka makan adalah kantong kue miliknya.

Wanita itu pun sontak terkaget dan tak percaya, dia melihat kanan-kiri, apakah kantong kue itu benar-benar milik lelaki yang duduk di sebelahnya. Dan ternyata benar, anita itu pun merasa malu sekali hingga merahlah wajahnya. Akhirnya malah wanita itu yang meminta maaf.

----- Moral dan Motivasi Positive Thinking -----

Positive Thinking Quotes

Menilai seseorang begitu indah bagi diri sendiri apalagi bila dipandang dari sudut dalam diri. Untung bila kita menilainya dengan topi kuning yang selalu positif. Beda halnya bila dengan memakai topi hitam, namanya saja hitam, serasa apa yang dirasakan memang dunia tetaplah berbalut kabut hitam.

Tenang saja, belum tentu yang kita pikirkan merupakan hasil pemikiran atau perasaan orang lain. Yang benar itu positive thinking. Semoga semua tahu apa hikmah berprasangka yang indah. Yang berbahaya adalah ketika virus topi hitam yang kita pakai dipinjamkan kepada orang lain. Positive Thinking itu indah dan merupakan salah satu solusi kehidupan.

Cerita Pendek: Positive Thinking Solusi Kehidupan