Tampilkan postingan dengan label Puisi Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Lainnya. Tampilkan semua postingan

Puisi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke 71

Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 telah menanti. Semuanya pada sibuk mempersiapkan upacara dan perayaan HUT RI, mulai dari lomba-lomba agustusan, gerak jalan, acara konser, dan lainnya. Tapi apakah mereka tau arti kemerdekaan sesungguhnya?.

HUT RI 17 Agustus

Dan uniknya, acara peringatan Dirgahayu HUT RI biasanya menjadi persaingan "yang paling megah dan meriah". Ya mulai dari antar RT, Desa, hingga Ibu Kota, termasuk stasiun TV yang nggak mau kalah. Dan konyolnya lagi, sering terjadi perselesihan, konflik, bahkan tawuran. Apakah begitu caranya menghormati para pahlawan dan tokoh yang telah berjasa membangun negeri ini dari zaman penjajahan hingga sekarang?.

Berikut ini dua puisi yang aku ambil dari Buku Pintu Gerbang MEA 2015 Harus Dibuka, semoga bisa membantu anda untuk lebih memahami makna hari kemerdekaan.

Puisi Panen
Berjurai dan berjurai-jurai
Tingkah padi menguning di tepi tikungan
Sawah menurun yang memalung lembah
Membuat aku bertanya:
Mengapa hatiku basah?
Burung-burung kecil menuliskan cericitnya
Pada angin, sebagai pujian Tanah Air

Berjurai padi, berjurai-jurai bersama angin
Dalam rinai doa air sungai
Dan ketika doa tunjam ke dasar
Kerbau yang berjasa meluku sawah
Pantaskah dijadikan kurban?

"Yang tak berkeringat tak boleh menang"
Suara yang selalu dibenarkan langit dan hujan
Tapi pada zaman kemustahilan
Hujan deras menangisi kenyataan
Di balik yang berjurai, berjurai-jurai
Ada yang mengajarku kembali membaca perih
Karena ada penyemai tidak berhak untuk menuai

Puisi Pahlawan
Ku kejar lagumu sampai ke palung lautan
bahasa tidak laku lagi di sini
karena nyanyian bukan hanya memanjakan ikan

Juga menerjemahkan ketulusan
dalam diamnya cangkang karang

Pada zaman pahlawan disimpan di laci
kulukis wajahmu dengan susunan padi
jagung dan kacang-kacangan
karena sejarah tak bisa diulang

Kalau dulu engkau kalah
aku sudah bertanya kepada pedang kepada senapan
Jawabannya, engkau tak kalah
Bahkan engkau sedang diperlukan sejarah

Zaman berjalan, tertatih dan sempoyongan
dalam asap hutan terbakar
Tapi engkau yang mengajarkan
agar aku tak punya waktu untuk mendengki
Tak punya waktu menjilet hati ibu pertiwi

Baca dan pahami makna puisi di atas, peringatan hari kemerdekaan Indonesia 2016 jangan hanya dijadikan sebagai perayaan wah-wah, apalagi baku hantam. Tapi juga harus memahami ari merdeka, agar kedepannya bendera sang saka mera putih bisa berkibar tinggi. Agar hukum indonesia nggak terlalu sering miring, tegak berdiri terus.

Animasi Hari Kemerdekaan RI

Kalau bagiku, peringatan 17 Agustus ibarat membuat secangkir kopi buat pelanggan, ha ha.

Syair Puisi Amir Hamzah Pilihan

Berikut ini beberapa sajak dari penyair terkenal Amir Hamzah yang menurutku sangat bagus dan gaya bahasanya juga sudah bisa dipahami daripada karya lainnya. Ya maklumlah, puisi jaman dahulu gaya bahasanya masih jadul, belum ada EYD ejaan yang disempurnakan.

Syair Puisi Amir Hamzah Pilihan

Nyanyian Jallaludin El Rumi

Jangan disalahkan dunia karena belenggumu,
Sebab banyakan mawar dari duri.
Jangan disebutkan dunia ini penjara,
Karena inginmu itulah yang membangunkan duka.
Jangan pula tanyakan penghabisan rahasia,
Satu dalam dua, atau baik, tau jahat!
Usaha pula katakan kasih meninggalkan tuan,
Jangan ia dicari di pekan dan jalan!
Ta’ guna takutkan siksa mati,
Sebab takut itulah mendatangkan sengsara,
Janganlah buru kijang cita indria,
Kalau terburu singa sesalan.
Jangan hatiku, mengekang diri,
Jadi ta’ usah malaikat menolong engkau.


Doa

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi,
Pada masa purnama meningkat naik,
Setelah menghalaukan panas terik.
Angin malam menghembus lemah,
Menyejuk badan, melambung rasa menanyang pikir,
Membawa angan ke bawah kursimu
Hatiku terang menerima katamu,
Bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu,
Bagai sedap-malam menyirak kelopak.
Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku
Dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu,
Biar berbinar gelakku rayu!


Memuji Dikau

Kalau aku memuji Dikau,
Dengan mulut tertutup, mata tertutup,
Sujudlah segalaku, diam terbelam,
Di dalam kalam asmara raya.
Turun kekasihmu,
Mendapatkan daku duduk bersepi, sunyi sendiri.
Dikucupnya bibirku, dipautnya bahuku,
Digantunginya leherku, hasratkan suara sayang semata.
Selagi hati bernyanyi, sepanjang sujud semua segala,
Bertindih ia pada pahaku, meminum ia akan suaraku …
Dan, iapun melayang pulang,
Semata cahaya,
Lidah api dilingkung kaca,
Menuju restu, sempana sentosa.


Padamu Jua

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku gila, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku ...


Kumpulan Puisi Amir Hamzah
Sajak-Sajak Seniman Amir Hamzah
Koleksi Syair Amir Hamzah

Puisi Pilihan Karya Taufik Ismail

Taufik Ismail, nama tersebut sudah tidak asing lagi bagi para pecinta puisi di tanah air. Goresan tinta yang ditorehkan begitu terkenal terutama yang menyiratkan tentang potret peristiwa sejarah. Namun demikian, secara pribadi aku tidak terlalu menyukai puisi-puisi jaman dulu, sajak yang ditulis terkesan seperti cerita.

Taufik Ismail

So, berikut ini beberapa puisi karya Taufik Ismail yang sudah aku pilih biarpun nggak semuanya. Maklum banyak banget karya-karyanya dalam Benteng, Buku tamu museum perjuangan, Prahara budaya, dan Sajak ladang jagung.

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.


Syair Orang Lapar

Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau.


Karangan Bunga

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.


Salemba

Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Siang ini.

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani.


Memang Selalu Demikian, Hadi

Setiap perjuangan selalu melahirkan
Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
Jangan kau gusar, Hadi.

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, Hadi.

Setiap perjuangan yang akan menang
Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
Dan para jagoan kesiangan.

Memang demikianlah halnya, Hadi.


Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua
Pada Anaknya Berangkat Dewasa

Jika adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah ang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kauagungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi.


Demikianlah Puisi Pilihan Karya Taufik Ismail, semoga anda terhibur dan dapat mengambil hikmah. Banyak sejarah dan motivasi yang bisa ambil di dalamnya, teruntuk anda para generasi muda.

Sajak Hitam | Avontur Sekumpulan Puisi

Sajak Hitam
(Avontur | Sekumpulan Puisi)

Bergelas kopi hitam dan baju hitam
yang menemani hari-hari hitammu
menjelang lagi di hitammu.

Kau pernah berkata
aku akan terus lurus di atas jalan hitam ini
sampai di titik yang nun di sana menghitam.

Avontur Sekumpulan Puisi

Sementara aku di pinggiran aspal hitam ini
masih saja separuh gelap
kawan, sudahkah engkau sempurna hitam.

Gegaslah karena tak lagi ada yang bisa dihitamkan disini
hitam tak lagi milik kita.

Hitam sudah menjadi milik semua.

Ragil Supriyatno Samid
AVONTUR (Sekumpulan Puisi)

Puisi Kidung Cinta Kita

Kidung Cinta Kita

Teduhnya langit tiada awan berarak menyelimuti,
Biru bawakan rasa kedamaian sejukkan jiwa,
Semilir bisikan angin mesra membelai asmara,
Ku terhanyut dalam buaian syair indah kidung cinta,
Dan terpejam mata ini menikmati gelora sorgawi.

Hati berdebar saat kau desahkan namaku,
Terpukau ku pandang rona merah di wajahmu,
Menyesap hangat dalam pesona rindu,
Mengalun merdu melodi jantungku yang berirama syahdu,
Tangan terulur tuk dekap jiwamu membuai kalbu.

Kidung Cinta

Kuingin rasa ini ku lukis dalam kanvas abadi di hati,
Bersama ilalang panjang menghiasi kembara cinta ini,
Berbiaskan taburan bintang gumintang indah berkelip,
Senja yang jingga menjadi saksi cinta kita yang abadi,
Hingga waktu datang di ujung temaram mengikat nurani...

Penulis Kidung Cinta:
Leonberg, 22.5.2012
Written by Ita Friedrich (kompasiana.com)

Sajak Persahabatan by Khalil Gibran

Sajak Persahabatan – Khalil Gibran

Persahabatan

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Arti Persahabatan

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam  persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika  kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

Puisi Khalil Gibran
Sajak Persahabatan by Khalil Gibran (end).

Syair penuh Motivasi Kehidupan

Mengalah untuk Menang, istilah tersebut kiranya kurang tepat. Menurutku, kalah ya kalah, nggak ada namanya mengalah untuk menang. So, kalau begitu maksud dari kalimat tersebut seharusnya dituangkan dalam kalimat "Mundur Selangkah, Maju ke Delapan Penjuru", seperti yang tertera dalam bait syair di bawah yang syarat dengan motivasi kehidupan.

Motivasi Keseimbangan

Mundur Selangkah, Maju ke Delapan Penjuru . ..tahukah anda apa maksud dari ucapan tersebut?. Kalau diartikan secara gamblang sih masih mudah, tapi kalau secara konkrit pasti anda kerepotan. Mundur selangkah ibarat seperti mundur di medan pertempuran. Kita harus berpikir jernih dalam berperang, jangan dengan semangat menggebu-gebu terus mengayunkan pedang tanpa tahu situasi dan kondisi, tak tahu berapa banyak pasukan yang tersisa.

Maju ke Delapan Penjuru, so sesekali kita harus mundur untuk menyusun strategi baru sesuai dengan sumber daya dan peta kekuatan musuh. Delapam penjuru merupakan jumlah arah mata angin, dengan mundur selangkah dan berpikir tenang kita dapat melihat ke segala penjuru dengan jelas.

Istilah penuh makna tersebut sama halnya ketika kita menjalani kehidupan ini 'jangan terus berlari dalam mengejar mimpi-mimpimu, sesekali berhentilah sejenak walau hanya untuk menghela nafas'. Nah syair di bawah ini, masih banyak deretan kata lainnya yang penuh motivasi kehidupan. Kalau anda ingin benar-benar memahami maksud yang tersirat, aku sarankan bacalah dengan santai di tempat yang sepi dan dengan keadaan hati yang damai.

SUHU 2

Kekerasan ada batasnya
Keluwesan tak ada batasnya
Tak ada kuda-kuda yang tak bisa dijatuhkan
Karena itu geseran lebih utama.

Keunggulan geseran terletak pada keseimbangan
Rahasia keseimbangan adalah kewajaran
Wajar itu kosong.

Membentur dapat diukur
Menempel sukar dikira
Mundur satu langkah maju ke delapan penjuru
Kosong dan isi bergantian
Menuruti keadaan.

Gimana, apakah anda sudah mengerti semua maksud dari bait-bait di atas, kalau belum baca dan resapi lagi. Btw syair di atas merupakan lirik Lagu Suhu 2 milik bang Iwan Fals dalam album keseimbangan.

Kumpulan Puisi Terbaik Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka, lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Ia banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986, SDD (Sapardi Djoko Damono) mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Dari sekian banyak sajak Sapardi Djoko Damono, yang paling aku sukai adalah puisi cinta yang berjudul Aku Ingin, yang seringkali digunakan pada undangan pernikahan. Puisi lainnya yang juga sangat keren, antara lain Pada Suatu Hari Nanti dan Sihir Hujan. Berikut ini sajak-sajak selengkapnya.

Kumpulan Puisi Terbaik

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.


Kumpulan Puisi Terbaik Sapardi Djoko Damono
Puisi Cinta: Aku Ingin
Puisi Kehidupan: Pada Suatu Hari Nanti
Puisi Hujan: Sihir Hujan

Puisi Tembang Pesisir

Tembang Pesisir

Istriku, mendekatlah,
Mari bernyanyi, merayakan kemiskinan ini,
Sebentar lagi mungkin kita akan mati.

Musim-musim tak pernah bersahabat dengan kita,
Dan setiap waktu, kita mesti menghitung kelu tanpa jemu,
Lihatlah laut biru yang terbentang, ikan-ikan yang berenang.
Kita tak lagi bisa menangkapnya sebab perahu kita tertambat di dermaga,
Hanya jadi mainan anak-anak ombak,
Tak bisa melancar, tak bisa bergerak tanpa bahan bakar.

Tembang Pesisir

Duhai, nasib kita istriku,
Serupa butir-butir pasir sepanjang pesisir,
Harus selalu menghadapi amuk gelombang yang datang,
Sementara dari selat dan tanjung maut tak berhenti mengintip, siap mendekat.

Istriku, mendekatlah,
Mari bernyanyi sebelum maut menjemput,
Membenamkan jasad kita yang malang pada hitam tanah dan bebatuan.

Puisi dan Syair Tembang Pesisir by: Husnul Kuluqi (Suara Pembaruan, Edisi 04/02/2006).

Seni Bergembira, Syair Motivasi Kehidupan

Syair Seni Bergembira
Motivasi Hidup di Dunia

Hukum kematian manusia masih terus berlaku,
karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi.

Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita,
dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian dari suatu berita,
ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau nan gelisah,
sedang engkau mengharap selalu damai nan tenteram.

Wahai orang yang ingin selalu melawan tabiat,
engkau mengharap percikan api dari genangan air.
Kala engkau berharap yang mustahil terwujud,
engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam.

Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan,
maka manusia di antara keduanya; dalam alam impian dan khayalan,
Maka, selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu,
akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan.

Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda,
kuasailah waktu, karena ia dapat menjadi sumber petaka.
Dan zaman tak akan pernah betah menemani Anda,
karena ia akan selau lari meninggalkan Anda sebagai musuh yang menakutkan,
dan karena zaman memang dicipta sebagai musuh orang-orang bertakwa.


Adakah kita generasi yang sama saja dengan moyangnya?
Penghuni negeri yang hanya melihat gagak sepanjang hidupnya,
hingga kita selalu meratapi dunia,
sedang di dunia tak ada sekumpulan manusia yang tak pernah berpisah.

Betapa nasib para durjana, kaisar-kaisar penguasa, dan penimbun harta,
adakah harta dan jabatan mereka kekal dan masih ada di tangan mereka?

Barangsiapa merasa terhimpit oleh langit kehidupannya,
dia akan terus merasa sesak sampai masuk ke dalam liang kuburnya,
seakan mereka tuli saat diseru,
dan tak pernah tahu bahwa menasehati mereka itu boleh, boleh sekali

Syair Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi

Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi

Sinar matamu tajam namun ragu,
Kokoh sayapmu semua tahu.
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan,
Kuat jarimu kalau mencengkeram.

Bermacam suku yang berbeda,
Bersatu dalam cengkeramanmu.

Angin genit mengelus merah putihku,
Yang berkibar sedikit malu-malu.
Merah membara tertanam wibawa,
Putihmu suci penuh kharisma.

Pulau-pulau yang berpencar,
Bersatu dalam kibarmu


Terbanglah garudaku,
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…..
Berkibarlah benderaku,
Singkirkan benalu di tiangmu.

Jangan ragu dan jangan malu,
Tunjukkan pada dunia,
Bahwa sebenarnya kita mampu.

Mentari pagi sudah membumbung tinggi,
Bangunlah putra putri ibu pertiwi,
Mari mandi dan gosok gigi.

Setelah itu kita berjanji,
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti,
Garuda bukan burung perkutut,
Sang saka bukan sandang pembalut

Dan coba kau dengarkan,
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut,
Yang hanya berisikan harapan,
Yang hanya berisikan khayalan.


Syair by Bang Iwan Fals

Puisi Namaku Kesedihan

Puisi Namaku Kesedihan

Namaku kesedihan,
Aku adalah rumah duka yang tak kenal kasta,
Tak ada yang hidup di dalam bilik-bilikku selain airmata,
Keriangan menjadi barang mewah bagi penghuniku,
Hanya tangis dan rintih yang selalu terdengar.


Namaku kesedihan,
Aku adalah rumah duka yang tak kenal kasta,
Semua orang pada segala usia bisa saja menjadi penghuniku,
Bisa sebentar dan tak sedikit yang betah mukim lama,
Terpuruk dan meringkuk.

Namaku kesedihan,
Aku adalah rumah duka yang tak kenal kasta,
Aku berpintukan bencana, penyakit, ketidakadilan, kehilangan, bahkan cinta,
Jangan heran jika yang kusuguhkan hanya keluh, stres, frustrasi, juga depresi,
Cukup memaafkan jika kau tak ingin menjadi salah satu penghuniku…

Puisi Negeri Debu

Negeri Debu

Duka sebegitu tajam tergores di langit ini,
sayap kupu-kupu tak bisa membawa beban debu,
juga sapu lidi terlalu pendek untuk menyapu.

Sehektar puing yang dititipkan gempa kepadamu,
ini wilayah angin, bisik daun pada
sebutir debu. dan debu itu memang
tak pernah melihat onggokan bukit kapur di sana,
kecuali rumah-rumah yang rebah
ditidurkan angin.

Negeri Debu

Sebatas mana rentang tanganmu ketika
gelombang memindahkan perahumu ke jalan raya?,
atau ketika langit jadi hitam oleh gerhana,
atau ketika sebuah menara bergeser karena gempa?

Kita akan kembali ke dalam keabadian
melalui liku-liku dalam riset waktu,
tak mudah kita menemukan ujung benang
dalam rajutan alam, tak mudah kita
memintal benang jadi gelas bagi air.

Puisi Negeri Debu By: Endang Supriadi

Puisi Orang-Orang Miskin by WS Rendra

Orang-Orang Miskin

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Puisi Orang-Orang Miskin

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan  kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim.

Puisi Orang-Orang Miskin By: W.S. Rendra

Syair Bingkai Mimpi

Puisi Bingkai Mimpi

Dalam kepekatan mimpiku,
WajahMu tersembunyi.
Alam semesta, matahari, bintang, rembulan,
Semua datang sujud buatMu,
Menikam cinta paling dalam.

Dari sudut manakah gerangan,
Aku dapat segera mulai,
Melukiskan Engkau yang kasat mata namun ada.
Bahkan mengalir dalam darah,
Hidup t'lah kujanjikan buatmu

Bingkai Mimpi

Garis-garis aku satukan,
Menampilkan watak yang beringas.
Titik-titik aku kumpulkan,
Menampilkan rona geriap.

Terlalu jauh dari wajahMu,
Yang agung, teduh, dan kasih.
Kini kuyakini sepenuhnya Engkau tak mungkin kugambar,
Tinggal kumohon ampunanMu atas kelancangan mimpiku.

Dalam kesejukan nafasMu,
Aku khusyuk sembahyang,
Barangkali dapat kutafsirkan makna firmanMu,
Peluklah aku dalam damai,
Siramilah dengan cinta.

By: Ebiet G. Ade

Syair Malahayati

Malahayati

Ketika semua tangan terpaku didagu,
Ragu untuk memulai segala yang baru,
Lirih terdengar suara ibu,
Memanggil jiwa untuk maju.

Dari tanahmu hei Aceh,
Lahir perempuan perkasa,
Bukan hanya untuk dikenang,
Tapi dia panglima laksamana jaya,
Memanggil kembali untuk berjuang.

Syair Malahayati

Dia Perempuan Keumala,
Alam semesta restui,
Lahir jaya berjiwa baja,
Laksamana Malahayati,
Perempuan ksatria negeri.

Tinggal kubur kini hening sepi menanti,
Langkah langkah baru tunas pengganti,
Hei Inong Nanggroe bangkitlah berdiri,
Di tanganmu kini jiwa anak negeri,

Dia Perempuan Keumala,
Alam semesta restui,
Lahir jaya berjiwa baja,
Laksamana Malahayati,
Perempuan ksatria negeri.

by: Iwan Fals

Puisi Hasrat yang Terendap

Hasrat yang Terendap

Pada ranum wajahmu,
Aku ta' tau musim apa di matamu.

Pada bugar dedaunanmu,
Aku ta' mengerti apa yang tersimpan di akarmu.

Pada liat cintamu,
Aku ta' paham kelindan nasibku.

Hasrat Terendap

Karena Ampunan,
Bukan noktah, bukan zarah,
Aplagi larutan maghrib yang tertumpah.

Maka gegar laparku adalah benalu,
Sembunyi ke lain sisi dunia,
Seperti aib dan porak bahasa,
yg ta' pernah ketemu kamusnya.

Pada kenyal dzatmu,
Mengalir deras sungai darahku.

by: Moch. Ruchan BS9